Semalaman Demian menghabisi kesedihannya di kamar karena habis diputus cinta. Keesokan paginya setelah sarapan ia sempatkan untuk bermain basket di
taman dekat rumahnya yang kebetulan semenjak berpacaran, tak ada waktu yang ia luangkan untuk bermain basket atau sekedar ke taman menghirup udara segar. Intinya saat ini dia hanya ingin sendiri, tak ingin diganggu, dan tak mau memikirkan sesuatu yang membuat moodnya jadi kacau kembali. Jadi, sesegera mungkin ia langkahkan kaki melewati gerbang rumahnya sambil bersiul riang.
Setibanya di taman ritual yang selalu ia lakukan ialah duduk terlebih dahulu di bangku sisi lapangan, mengikat tali sepatunya dengan kuat, minum air, dan menikmati kedamaian taman
ini dengan menghirup napas dalam dan mengeluarkannya kuat-kuat dan mulai berpuisi
mendramatisir…
“Kedamaian yang dulu pernah ada, kembalilah padaku. Bersama dengan bunga-bunga bermekaran, tercium harum yang tiada tandingannya, mengundang para kupu-kupu menari kesana-kemari~ wait wait!” ucap Demian terpotong dan pandangannya tertarik pada satu hal. “Bunga
mawar yang satu ini kok warnanya hitam? beda dari yang lain. Hmm, aku jadi
teringat Wini! Cewek galak, jelek, hitam dan dekil itu apa kabar ya sekarang? Hahaha” olok Demian berbicara
seorang diri yang kemudian berlalu dan segera fokus kepada bola basket
kesayangannya.
***
Seolah waktu mengerti kesedihan Demian, keesokan
harinya di sekolah, Friska menghampiri Demian. Perasaan senang bukan main
bermunculan dalam benaknya, tapi sekeras apapun usaha Demian menahan egonya untuk menghindari Friska, tetap saja ia merindukan Friska yang kemarin malam
telah memutuskan status hubungannya. Demian tak peduli dia sedang ada dimana, ia
langsung menarik tubuh lemah Friska ke dalam pelukannya dan tiba-tiba saja
ia teringat percakapan antara mereka kemarin malam…
“Yan maafin aku, aku nggak bisa jaga kesehatan, penyakit masa kecilku
mendadak kambuh lagi dan ini lebih parah, bahkan aku sekarang divonis terserang
penyakit kanker hati. Aku takut kalau umurku nggak lama lagi, sementara kita
masih terikat hubungan satu sama lain. Jadi aku minta kalau kamu sayang sama
aku, kita putus aja ya? Aku tau ini berat buat kita, tapi kita coba ya buat
saling mengikhlaskan.”
Seisi kelas terkejut menatap adegan romantis antara Demian
dan Friska. Tak seorang pun tahu perihal penyakit yang diderita Friska saat ini, terkecuali Demian. Maka dari itu usai mereka
berpelukan, kelas kembali gaduh dipenuhi cuitan dan sorakan. Salah
satunya Wini.
“Woy, masih pagi jugaa, udah pacaran aja.
Peluk-peluk segala lagi. Ew” ledek Wini
“Orang enggak. Sok tau banget sih, Bey! Udah
jelek, galak lagi~ pantes masih jomblo 17 tahun :p haha” balas Demian
“Ih, apaan sihh. Lagian bukan aku doang yang jomblo, masih banyak di luar sana yang senasib kayak aku. Haha” sergah
Wini tak mau kalah.
“Dasar kalian, dari dulu nggak pernah akur. Kayak
Tom and Jerry aja deh. Ya udah yuk duduk, udah bel tuh.” Tegas Friska
“Iya iya neng geuliss..” balas Demian dan Wini
bersamaan, yang kemudian disambut adu tonjok dan jitak ringan di antara mereka.
“Ckckck dasar mereka. Kalau aku udah nggak ada lagi di
dunia ini, pasti mereka bakal bersatu” ucap Friska
dalam hati sambil tersenyum.
***
Demian dan Wini memang sudah menjadi sahabat karib
sejak kecil karena Ayah mereka yang memang juga sudah bersahabat sejak Sekolah
Menengah Atas. Maka dari itu sampai SMA ini sekolah Demian dan Wini selalu
sama, bahkan selalu duduk sebangku. Tak ada kata bosan di dalam kamus hidup mereka untuk
selalu bersama. Hari-hari mereka justru bakal tak indah kalau mereka tak bertengkar sehari pun, jadi semua orang pun tahu kalau ada keributan kecil pasti disebabkan karena ulah mereka.
Namun, Demian dan Wini ibarat langit dan palung
laut, yang secara fisik menggambarkan perbedaan yang signifikan. Demian adalah
lelaki tampan pujaan semua wanita, berbadan tinggi proporsional bak seorang
model, berkulit putih, tajir, dan seorang kapten basket di
sekolahnya, bahkan ia juga meraih predikat bintang sekolah karena ia juga berprestasi di
berbagai bidang. Sementara Wini, ia hanya seorang wanita tidak percaya diri yang secara fisik memiliki banyak kekurangan. Ia memang
terbilang kurang merawat diri, kulitnya hitam, badannya kecil,
berkacamata, dan berkerudung. Ia juga memiliki beberapa kecacatan yang ia miliki di
bagian wajah, yang membuat lelaki manapun sulit untuk menyukai dia karena fisiknya. Boro-boro menyukai, melirik pun enggan. Ditambah lagi kondisi finansial keluarganya sangat
minim.
Cacat yang Wini dapatkan di daerah wajah disebabkan
karena kecelakaan mobil yang dulu ia tumpangi bersama Demian ketika hendak
pergi berlibur ke puncak. Saat kejadian tersebut entah mengapa hanya Wini yang terluka. Mungkin kelalaian Wini juga saat itu tidak memakai sabuk pengaman, sehingga area wajah dan kulit kepalanya
terkena pecahan kaca. Lebih naasnya lagi, karena banyaknya luka berdarah di kepala WIni, ia harus mendapatkan banyak jahitan dan mengharuskannya untuk dibotaki. Karena rambut Wini sulit tumbuh, sejak itulah ia selalu
menggunakan kerudung untung menutupinya.
Seantero sekolah sudah tau dengan julukan “Handsome boy and Ugly girl”, dan seringkali mereka katakan dengan lantang ketika Demian dan Wini sedang berjalan berdampingan. Tapi Wini
tak memperdulikan kata-kata pedas dari bibir mereka karena memang begitulah
fisik Wini saat ini, walau dahulu Wini sering menangis ketika dikatakan buruk
rupa, tapi selalu ada Demian yang selalu hadir menenangkan. Jadi sekarang Wini
tak perlu khawatir lagi, karena toh Demian lebih suka kalau Wini menjadi
perempuan kuat bukan malah yang suka menangis. Dan sejak itulah mereka
memutuskan untuk saling membuat panggilan kesayangan,
yaitu “Lek dan Bey”. Lek/Jelek untuk Demian dan Bey/Beauty untuk Wini.
“Lek, mata kamu kenapa sembab begitu? Tanya Wini
cepat begitu guru pengajar sedang asik dengan papan tulisnya.
“Gapapa Bey, aku cuma kurang tidur aja semalem hehe”
“Apaan kurang tidur, kemarin kan libur? Masa kamu
begadang terus. Boong ah, pasti abis nangis ya? Hayo ngakuu..”
“Hehehe tau aja sih kamu. Iya bener abis nangis,
nanti sore aja deh ya aku ceritain. Aku aja yang ke rumah kamu, gimana?”
“Iyalah tau, kan dari orok juga kita udah
bareng-bareng, jadi apa sih yang aku nggak tau tentang kamu”
***
“Wiiniii! eh salah, Beyyyy!” Teriak Demian gaduh
dari luar gerbang rumah Wini.
“Iyaaaa, jangan kenceng-kenceng dong teriaknya, entar tetangga pada keluar semua oy!”
“Ah gapapa bey. Lagian
kalo teriak nggak kenceng ya bukan teriak dong namanya. Nggak seru ah kamu. Eh
iya, aku nggak jadi cerita sekarang deh, mending kita nonton bioskop aja yuk
kali-kali. Cepetan sana Bey ganti baju lagi yang rapi dikit jangan berantakan
mulu, biar orang juga enak ngeliatnya hehe”
“Iya iyaa bawell!”
Di dalam ucapan kasar Wini tadi sebenarnya bukan
bermaksud kasar sungguhan, ia hanya berusaha menutupi perasaannya yang sebenarnya
terhadap Demian. Lamanya hubungan erat yang mereka jalin, tak menutup kemungkinan akan menumbuhkan rasa suka di hati Wini. Apalagi Demian merupakan sosok yang pengertian, tulus, hangat, dan penuh kejutan, yang lama-kelamaan membuat diri
Wini tak sanggup lagi menahan gejolak asmara yang baru kali ini ia rasakan. Namun, sampai sekarang Wini akan terus menahan rasa itu sampai waktu yang tepat mampu
mendorongnya untuk dapat mengatakan sejujurnya. Tapi Wini sudah minder duluan.
Takkan mungkin Demian yang nyaris sempurna tanpa kekurangan seperti itu
memiliki perasaan yang sama terhadap Wini. Jadi, Wini akan selalu tahu
jawabannya dan akan selalu mundur dari barisan pencinta Demian.
Maka dari itu, ketika Demian tiba-tiba muncul di
depan rumahnya dan mengajaknya pergi menonton bioskop, itu jadi salah satu hal terindah dalam
hidupnya. Bayangkan saja, wanita manapun pasti akan sangat terkejut dan bahagia bukan main ketika diperlakukan manis seperti itu.
***
Setelah menghabiskan waktu 2 jam hanya duduk manis
di bioskop, Demian mengajak Wini memasuki restoran bergaya Korea kesukaan Wini.
Dan asli, saat itu Wini benar-benar menjadi wanita paling bahagia di dunia.
“Bey, kamu suka tempat ini nggak?”
“Wahh, jangan ditanyaa. Aku suka banget, Lek.. Aku
bahkan belum pernah menginjakkan kaki ke restoran manapun sebelumnya. Kamu baik
banget sih, Lek. Makasih banyaak~”
“Biasa aja ah aku nggak baik banget tuh, iyaa
sama-sama yaa.. Aku tau kamu suka banget sama tempat ini karena kata temenmu
kamu suka Korea-Korea gitu.”
“Ah emang yaa, cewek mana sih yang nggak bakal
meleleh dengan perhatian kamu. Untung aku bukan jadi salah satu cewek yang
meleleh itu haha” bohong Wini
“Yahh, berarti usahaku sia-sia dong nggak bisa bikin
kamu meleleh juga?” ucap melas Demian
“Hahahaha iya, Lek sia sia sepertinya.”
“Bey, kamu pasti tau kan hari ini hari apa?”
“Hari Senin kan?? Tadi sekolah dan upacara
bendera kayak biasanya..”
“Ihh ngeselin banget sih kamu. Bukaan, hari ini tuh
hari ulang tahun kita yang ke-17 tahun tau~ Sekarang tanggal 14 Februari! Masa
kamu lupa sama tanggal lahir sendiri?”
“Ah iyaa, aku baru inget setelah kamu ingetin hehe.
Abisnya orang tua aku pun nggak ngucapin aku, jadi aku biarin aja hari ini
lewat tanpa arti~”
“Heh, nggak boleh ngomong begitu. Untuk hari ini,
serahin aja semua sama aku, dijamin hari ulang tahun kamu bakal menyenangkan
karena aku hehehe. Ah tapi kamu tetep aja payah, tadi aja fans aku banyak yang
ngasih ke aku kado, bahkan banyak juga yang peluk-peluk aku minta tanda tangan
segala. Emang kamu nggak mau peluk aku juga nih? hehe”
“Wah sorry banget, aku nggak level sama kamu, Lek.
Iyalahh, kamu dan aku kan beda:(”
“Ah sudah sudah, jangan merendahkan diri lagi~ kamu
sama kok kayak aku, sama-sama masih hidup di dunia yang penuh kenikmatan ini.
Sebentar..” potong Demian sembari mengeluarkan sesuatu dari balik tas nya.
“Ini, kado dari aku, Bey~ maaf ya kalau ini sama sekali nggak spesial buat
kamu. Hehe”
“Wah lek, aku jadi terharu~ lagian aku juga nggak
mengharapkan sesuatu kok di hari ulang tahun ini. Tapi, sekali lagi makasih
banyak yaa, aku nggak lihat kado ini dari bentuknya kok, tapi perjuangan kamu
beliin ini udah cukup bikin aku bahagia” ucap Wini berkaca-kaca
“Ya ampuun, jangan nangis dulu dong, kan kadonya
belum dibuka hehe. Cup cup..” Ucap Demian menenangkan sambil berjalan ke arah Wini, duduk di sampingnya, dan merengkuh tubuh
mungilnya ke dada nya.
“Oke aku buka. Awas ah jangan peluk-peluk gini! Malu
tauu, lagipula aku anti cowok.” Bentak Wini berbohong untuk mencegah jantungnya keluar lebih jauh lagi
“Ah dasar galak. Gimana cowok mau suka sama kamu coba. Kamunya aja galak terus gini ke aku nggak ada manis-manisnya sedikit pun”
ucap Demian dengan raut sok sedih
“Gausah acting kamu, Lek :p aku nggak apa-apa kok
nggak punya cowok juga, yang penting selalu ada seorang cowok yang aku cintai tersimpan di hati ini.”
“Oh ya? Siapa tuh? Kamu mah jahat ih nggak pernah
cerita-cerita ke aku soal begini..”
“Iya biarin ajaa, ada deeeh. Gimana aku mau cerita
kalau kamu aja berduaan terus sama Friska.”
“Yaudah yaudahh.. oiya, omong-omong soal Friska, aku
udah putus sama dia, Bey”
“Apa?! Kok bisa? Padahal baru aja tadi pagi kamu
pelukan sama dia kan?”
“Iya, Bey. Sebabnya karena dia sendiri yang emang
mau putus dari aku, dia begitu cepat mengambil keputusan itu. Dia bilang dia
divonis sakit kanker hati yang membuat usianya diprediksi nggak akan bertahan lama lagi,
makanya dia pingin udahan..”
“Heyyy, dengan kondisi dia yang sakit itu, kamu nggak seharusnya meng-iya-kan keputusan dia itu, wajar kalo dia cepat ambil keputusan. Karena orang yang lagi sakit pasti persepsinya menyempit. Dan sekarang kamu malah asik berdua
sama aku kayak begini? Kamu harus tetep sama dia, Lek! Apa kamu mau jadi
orang yang paling merugi karena nggak bisa menghabiskan momen-momen terakhir bersama
dia?”
“Iya aku tau, dan nggak mau. Tapi ini semua kemauan
dia. Kamu pasti tau kan gimana dia yang keras kepala itu? Dan katanya juga,
kalau aku sayang sama dia, aku harus menuruti setiap kemauannya dengan aku tidak
menghubungi dia lagi.”
“Tetap saja, di dalam ucapannya yang melarang, hatinya berkata lain, Lek. Ia justru ingin kamu melakukan seperti yang aku katakan tadi, perempuan
memang suka menutupi perasaanya, jadi aku mohon kamu balikan lagi sama dia. Aku
juga ngerti kok perasaan kamu saat harus memilih keputusan terberat itu.
Tapi aku boleh minta sesuatu juga nggak dari kamu?”
“Hah?! Apaan, Bey? Kamu jangan menambah beban
fikiran ke aku lagi dong semua udah cukup menyedihkan.”
“Iya, aku cuma mau suatu hari nanti kalau Friska
membutuhkan hati, tolong beri hati aku ini aja untuk dia.”
“Heyy, kamu bicara apa sih, Bey? Kamu nggak boleh
begitu!”
***
Di dalam kamar, Wini jadi kepikiran tentang
percakapan mereka di restoran tadi. Wini tak menyangka Friska secantik itu
bahkan sedang mati-matian menghadapi penyakit mematikan itu.
“Kenapa bukan aku aja yang menderita kanker? Bahkan
hidupku nggak berguna walaupun diberi kesehatan seperti ini.. hiks hikss” ucap
Wini lemah sambil bercucuran air mata.
Hingga larut malam Wini tak bisa juga memejamkan
mata, padahal besok masuk sekolah dan ada pelajaran olahraga yang paling ia
sukai. Maka sampai suntuk Wini menetapkan untuk menggoreskan baris demi baris buku hariannya dengan pulpen. Seperti sebuah firasat akan hadirnya kematian, Wini sengaja
menuliskan pesan itu untuk diperlihatkan kepada Demian seorang,
bahkan mengenai perasaan terdalam yang masih Wini simpan rapat-rapat.
***
Pagi telah tiba, matahari nampaknya masih malu-malu
untuk bersinar. Bahkan awan mendung kelabu lebih dulu nampak di
cakrawala, menandakan tak lama rintik hujan pun mulai berjatuhan.
Pelajaran pertama, olahraga. Wini begitu bersemangat
untuk itu, sampai lupa kalau hari ini hujan akan turun dan basah akan mengguyur ke semua. Usai berganti pakaian menjadi baju olahraga dan bersiap
untuk segera berolahraga, Wini menuruni tangga yang kebetulan lantainya basah
akan hujan. Lantas Wini pun terpeleset dan jatuh berguling ke anak tangga
paling bawah, dan untuk kesekian kalinya ia mengalami kebocoran pada kepalanya. Lagi-lagi kepala Wini
yang menjadi sasaran. Belum begitu pulih luka bekas kecelakaan masa lalu, kini diperparah dengan darah segar yang meluap hingga tak terbendung, membuat
semua orang yang melihat peristiwa itu terpaku kaku dengan merinding di sekujur
tubuh. Demian yang baru saja mengatakan “Awas Bey, hati-hati.” 3 detik
kemudian sudah melihat Wini terbujur bersimbah darah di lantai basah itu.
Seolah tak percaya dengan pengelihatan Demian, ia pun berlari menghampiri tubuh terkulai Wini.
Hanya tangis dan perih yang bisa Demian rasakan saat
ini. Wini menghembuskan nafas terakhirnya ketika diperjalanan menuju rumah
sakit, tepat setelah memberikan buku harian yang semalaman Wini tulis dari
dalam saku celananya kepada Demian yang saat itu sedang memangku kepala Wini.
Sungguh menyedihkan harus menyaksikan momen kehilangan sahabat yang paling ia
sayangi. Buku harian itu saat ini tak lebih penting dari bagaimana menghabiskan
saat-saat terakhir bersama Wini. Dan di saat yang genting ini, ada panggilan
masuk ke handphone Demian.
“Ya? Halo?” Ucap Demian gamang karena banyak
menangis.
“Halo Demian, Friska saat ini sedang dibawa ke rumah
sakit tempat yang sama dengan yang Wini tuju! Sepertinya penyakit Friska
semakin parah dan dia terus memanggil-manggil namamu. Setibanya kamu di rumah
sakit, tolong untuk tunggu kami disana. Terima kasih.”
“Ya
Allah, mengapa hari ini menjadi hari paling buruk yang pernah ia rasakan, hamba benar-benar bingung harus
melakukan apa.. berikanlah petunjukmu Ya Allah, jadikanlah hambamu ini hamba yang ikhlas dan sabar~
Aamiin” Doa Demian lirih dari dalam hati
Di bilik UGD pasien Friska, Demian langsung bertanya
bagaimana kondisi Friska dan apa yang harus Demian lakukan. Dokter mengatakan bahwa Friska harus segera dioperasi dan ia harus segera mendapatkan hati yang baru sebelum sel
kanker menyebar semakin luas di dalam tubuh Friska. Sesuai keinginan Wini
kemarin malam, Demian pun menuruti. Ia segera meminta izin dengan sangat hormat
dan penuh maaf kepada orang tua Wini untuk dapat meminjamkan hati putrinya
kepada Friska. Dan setelah orang tua Wini mengizinkan, dengan amat berterima
kasih, pengoperasian pun segera dilaksanakan.
Sembari menunggu pengoperasian Friska, Demian
menyempatkan diri membuka lembar demi lembar buku harian sederhana milik Wini
yang tadi diberikan untuknya. Isinya membuat Demian lagi-lagi meneteskan air
mata dan sukses merasakan perih yang teramat sangat. Semua kenangan tentang
mereka ditumpas habis dalam buku harian tersebut. Pelan-pelan ia meresapi makna
tiap tulisan Wini sampai ia menemukan secarik kertas surat yang dibuat khusus
untuk Demian. Dan Demian harus membacanya dengan hati yang sekali lagi pecah
berkeping-keping.
_________________________________________________________________________________
Dear
Demian,
Halo
Demian yang tampan? Eh salah, jelek deh maksudnya hehe hari inii hari Selasa
bukan? Yeaayy, sekarang aku yang ingat duluan dibanding kamu.. Apa sekarang
kamu sedang membaca surat kecil dariku? Aku harap kamu tidak meneteskan air
mata saat membacanya ya
Aaah,
Demiaan.. Aku benar-benar merindukanmu saat inii huhu. Merindukan puisi
buatanmu, rindu main basket sama kamu, rindu tonjok-tonjok, jitak-jitak,
cubit-cubit dan klitikan sama kamu, rindu sebangku bertahun-tahun sama kamu,
rindu merasakan hangat peluk dari kamu, rindu cerita apa aja sama kamu, dan
rindu semuanya yang ada dalam diri kamu:( Tapi apakah kamu merindukanku
juga? Pastinya tidak, karna toh kamu udah bahagia bersama Friska yang selalu ada di
dekatmu, sampai-sampai waktu kamu ke aku semakin berkurang bahkan tak lagi sama
seperti dulu sebelum kamu mengenal Friska. Ah tapi aku nggak apa-apa kok, biasa
aja :p
Oiya,
aku cuma mau bilang terimakasih yang mendalam untuk semua yang udah kamu
berikan buat aku. Soal hadiah ulang tahun ke-17 kemarin yang itu jadi hadiah
terspesial yang pernah aku terima, terlebih dari kamu. Walaupun cuma kalung
bertuliskan “Demian” dan bingkai foto besar beserta foto-foto kita di dalamnya
itu udah sempurna banget rasa bahagiaku, karena ini juga usia penutupanku:”)
hehe. Makasih juga udah mau menerima semua kekuranganku ini. Aku jelek, kamu
bilang aku cantik. Aku minderan, kamu bilang aku percaya diri. Aku lemah, kamu
bilang aku kuat. Kamu emang motivasi terbesar aku banget, Lek!
Oiya,
maafin aku juga kalau aku sering banget cuek atau terkesan jahat sama kamu. Padahal aku
aslinya nggak begitu kok, kamu pasti tau itu kan? Hehe. Aku kasar dan galak
begini juga cuma karena ingin jadi Wini yang kamu kenal, dan lebih tepatnya sih
karena aku cuma mau nutupin bagaimana perasaanku aja. Dan mengenai siapa cowok
yang lagi aku sukai bahkan aku cintai.. kamu emang belum pernah aku ceritain
dan bahkan belum aku kasih unjuk ke kamu kok. Karena sosok yang aku sukai itu.. yaa yang
sekarang lagi baca surat ini :’( ahh, kamu pasti kaget ya? Kamu pasti nggak
suka kan? Ah, maafin aku ya Demiaan, aku malu harus jujur dengan perasaanku
seperti ini, abisnya aku bukan tipe orang pemberani kayak cewek lain sih, jadi
aku terlambat banget deh nggak bisa liat reaksi kamu saat ini kayak
gimana, aku cuma takut patah hati huhu.
Oke, untuk itu kamu nggak usah khawatir, aku akan tambah bahagia kok kalau kamu
nurutin permintaan aku kemarin untuk mendonorkan hatiku untuk Friska. Dan itu
mungkin jadi hadiah balasan dari aku yang kemarin~ hehe
Aku
rasa sudah cukup, semoga kamu bisa dapetin sahabat baru yang lebih lebih baik
dari aku yaa, dan semoga sukses ya Ujian Nasionalnya.. yah, lagi-lagi payah
banget nih aku, nggak bisa nikmatin hari kelulusan nanti bareng kamu:( Aku harap kamu nggak akan melupakan aku, sebab.. dari bayi pun kita sudah
bersamaa hehe. Bye Demian, I love you.
_____________________________________________________________________________
Usai membaca surat kecil itu dengan mata berair, ingin
rasanya Demian membalas suratnya,
Bey,
harusnya kamu lebih awal memberitahuku perihal perasaanmu :’( yang kurasa sejak
dulu ya emang cuma ke kamu aku bisa nikmatin arti hidup yang sebenarnya, yang
nggak cuma senengnya aja yang bisa aku nikmatin, tapi juga sulit, sedih, dan
kerasnya hidup juga kita lalui berdua. Mungkin sebelum kamu menyukai ku, bisa jadi akulah yang lebih dulu
menyukaimu. Tepat sejak kita masih duduk di bangku SMP, setelah diam-diam aku mendengar obrolan antara
ayahku dengan ayahmu bahwa kita akan dijodohkan, di saat itu pun aku seneng
bukan main. Tapi ya bener, sejak kehadiran Friska di hidupku, aku lebih banyak
menghabiskan waktuku ke dia bukan ke kamu, karena aku yakin perjodohan itu
kelak akan benar-benar jadi kenyataan, makanya aku coba buat mencintai seorang
wanita selain kamu.. maafin aku ya, Bey karena kebodohan dan keterlambatan aku ini, lagipula dari dulu aku
mencintai kamu bukan dari fisik kok, tentu saja dari hatimu~ Aku sungguh
menyesal udah nggak berlaku adil ke kamu, tapi aku udah ikhlas untuk
kepergianmu ini yang secara tiba-tiba, Bey, karena aku tahu masih ada hatimu yang
tersisa di dunia ini. Dan itu berarti, akan selalu ada hatiku yang dekat dengan
hatimu. Semoga di alam sana kamu nggak sedih sedih lagi ya, Bey. Disana pun
pastinya kamu bakal seperti bidadari cantik kok, jadi jangan khawatir bakal
dikatakan “buruk rupa” lagi, okey? :’) I love you too.
*****