Perlunya Keseimbangan antara Akademik dan Organisasi

Jumat, 29 Desember 2017

Perlunya Keseimbangan antara Akademik dan Organisasi



Dalam pendidikan, banyak sekali hal yang melatarbelakangi permasalahan mengenai keterkaitan antara akademika dengan organisasi. Namun, menurut fenomena yang terjadi, tidak semua peserta didik memiliki keunggulan di bidang akademis saja, ada juga yang justru menonjol di bidang non-akademik atau bahkan ada juga yang pandai berorganisasi.
Tanpa disadari juga, pada saat seseorang memasuki lingkungan akademik yang salah satunya adalah lingkungan kampus, maka semua aktivitas dan kepribadiannya akan terbawa oleh lingkungan tersebut. Berbeda hal nya jika seorang mahasiswa tidak puas akan pengalamannya dalam bidang akademik saja, mereka pun akan memilih berkecimpung dalam organisasi juga.
 Akademik adalah seluruh lembaga pendidikan yang bersifat akademis. Artinya bersifat ilmiah, ilmu pengetahuan, dan teori tanpa arti praktis yg langsung. Akademik ini bersifat formal baik pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan kejuruan maupun perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi, dan atau seni tertentu.  Sedangkan kegiatan non akademik biasa disebut dengan kegiatan ekstrakulikuler. Yakni kegiatan diluar materi pelajaran wajib. Ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilakukan siswa sekolah atau universitas, di luar jam belajar kurikulum standar. Kegiatan-kegiatan ini ada pada setiap jenjang pendidikan dari sekolah dasar sampai universitas. Kegiatan ekstrakurikuler ditujukan agar siswa dapat mengembangkan kepribadian, bakat, dan kemampuannya di berbagai bidang di luar bidang akademik. Kegiatan ini diadakan secara swadaya dari pihak sekolah maupun siswa-siswi itu sendiri untuk merintis kegiatan di luar jam pelajaran sekolah atau universitas (Fathia, 2014).
Hanya saja penyebutan nama ekstrakulikuler tidak lagi terdengar di dunia perkuliahan, sebagai penggantinya ada UKM yaitu Unit Kegiatan Mahasiswa, yang di dalamnya juga terdapat suatu orginisasi mahasiswa guna menumbuhkan jiwa-jiwa mampu berorganisasi sejak dini. Karena semakin dewasanya usia, akan memungkinkan untuk melanjutkan kehidupan memerlukan bekal berorganisasi agar dapat bertahan hidup menghadapi masyarakat luas.
Organisasi adalah lingkungan penyempurna dari lingkungan akademik. Oleh karena itu organiasi adalah penyempurna lingkungan akademik. Tidak bisa dipungkiri ilmu pengetahuan yang didapat dari dalam kelas kuliah hanya sebatas ranah kognitif saja (pikiran). Apabila dilengkapi dengan organisasi maka akan berkembang ranah afektif (sikap) dan psikomotorik (perilaku). Sehingga lengkap sudah kemajuan tiga ranah dari individu yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik (Ikamaro, 2013)
Namun, dalam konteks akademik ini mahasiswa mempunyai tanggung jawab lebih terhadap almamaternya maupun terhadap diri sendiri dan orang tua agar di masa perkuliahnya mampu menghasilkan predikat yang memuaskan dan lulus tepat waktu. Bagaimana pun juga sisi lain mahasiswa sebagai “Agen Perubahan Sosial” tak kalah pentingnya untuk dilakukan. Bahkan predikat ini sudah mengakar pada masyarakat umum bahwa mahasiswa merupakan generasi terdepan dalam menatap perubahan masa depan bangsa.
Ada kalanya mahasiswa dihadapkan situasi kondisi dimana mahasiswa harus menyibukkan diri dengan akademiknya atau organisasinya. Oleh karena itulah, kemudian dilahirkanlah beberapa tipikal mahasiswa. Pertama, adalah mahasiswa akademik, mahasiswa model ini cenderung terjebak pada suasana formalitas dan menganggap bahwa ruang kuliah merupakan medium satu-satunya sumber ilmu tanpa ingin berbaur berorganisasi dengan yang lain. Seringkali mahasiswa tipe ini gagap ketika berhadapan pada persoalan nyata yang terjadi di masyarakat. Padahal mahasiswa mempunyai tanggung jawab sosial. Begitupun dalam dunia kerja, ketika gagal dalam persaingan sesuai jurusannya, otomatis menjadi pengangguran terbuka, karena tidak mempunyai kemampuan yang lain (Laka, 2013). 
Kedua, adalah mahasiswa aktivis. Tipekal mahasiswa ini memiliki kesadaran sosial bahwa label mahasiswa tidak hanya mempunyai tugas akademik, tapi juga mempunyai tugas sosial. Segudang agenda kegiatannya dalam berorganisasi terkadang membuatnya melupakan tugas utama, yaitu kuliah. Bisa dikatakan ia tercabut dari akar akademiknya. Berbeda hal nya dengan aktivis  “founding fathers” kita seperti Bung Karno dan Bung Hatta yang justru tidak hanya fokus berorganisasi tetapi juga fokus dalam akademiknya. Adalah realitas yang maklum jika mahasiswa model ini acapkali mendapat gelar MA (mahasiswa abadi) sebelum lulus. Mahasiswa ini pada umumnya bekerja tidak sesuai bidang kuliahnya, karena mereka banyak memiliki kemampuan hidup terbuka. Rata-rata orang seperti ini mudah mencari kerja, jelas mereka banyak jaringan, mudah bergaul dan bisa beradaptasi dalam pekerjaan apapun.
Ketiga, ialah mahasiswa aktivis yang akademis. Pada tipe ini mahasiswa memiliki kesadaran akademik sekaligus kesadaran sosial. Atau kata lain tipe ketiga ini hasil dari antitesis antara mahasiswa akademik dan mahasiswa aktivis. Mahasiswa ini menganggap kuliah juga harus diselesaikan. Tipe mahasiswa ini memiliki kelebihan dintara kedua tipe mahasiswa. Yang pada dasarnya keilmuan yang dibangun tidak hanya sebatas diruang kuliah saja. Pada tipe ini, sangat relevan dan sangat dibutuhkan dalam membangun Bangsa Indonesia ke depan.
Pada tipe yang terakhir, seringkali disebut mahasiswa masa bodoh. Baik tidak peduli dengan tanggung jawab akademiknya maupun tanggung jawab sosialnya terhadap lingkungan sekitar. Mahasiswa tipikal ini biasanya mempunyai kecenderungan hidup hedonis, semaunya, tidak peduli terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Intinya hidup mengalir apa adanya, hingga akademik pun tidak punya target yang muluk-muluk.
Untuk itu, terdapat cara bagaimana membuat akademik dengan organisasi berjalan seimbang sebagaimana mestinya, yaitu diantaranya dengan mencermati jadwal kuliah. Dengan memastikan ada atau tidaknya jadwal yang bentrok antara kuliah dengan organisasi akan meminimalisir ketidak seimbangan tersebut. Selanjutnya dengan memprioritaskan kegiatan apa yang perlu dilakukan lebih dahulu dan tidak lupa dengan memfokuskan pikiran untuk menyelesaikan kegiatan satu per satu. Dan yang terakhir ialah menaati rencana atau agenda yang sudah dirancang. Meski terasa berat di awal, dengan keyakinan tentu rencana baik akan menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Dan inti dari kesemuanya adalah sebagai mahasiswa yang ingin sukses, manajemen waktu adalah yang terpenting. Karena mahasiswa yang mampu menyeimbangkan antara akademik, penelitian dan organisasi akan menjadi mahasiswa yang bermanfaat bagi orang lain dan kontribusinya dibutuhkan oleh dunia.

Daftar Pustaka

Fathia, Riza Nurul. (2014, August 21). Keseimbangan Pendidikan Akademis dan Non-Akademis. Retrieved from August 21, 2015, from http://www.kompasiana.com/rizanurul/keseimbangan-pendidikan-akademis-dan-non-akademis_54f5fc4fa3331184108b4675
Laka, Abu. (2013, February 22). Akademik OK, Organisasi Yes. Retrieved from August 21, 2015, from http://www.kompasiana.com/abulaka/akademik-ok-organisasi-yes_551f6b2ca333114340b65ab0
PT. Joblik Indonesia. (2014, July 8). Kiat Seimbangkan Kegiatan Akademik dan Organisasi. Retrieved from August 21, 2015, from http://yukerja.com/learning/kiat-seimbangkan-kegiatan-akademik-dan-organisasi

0 komentar :

Posting Komentar