Perlunya Keseimbangan antara Akademik dan Organisasi
Dalam pendidikan, banyak
sekali hal yang melatarbelakangi permasalahan mengenai keterkaitan antara akademika
dengan organisasi.
Namun, menurut fenomena yang terjadi, tidak semua peserta didik memiliki
keunggulan di bidang akademis saja, ada juga yang justru menonjol di bidang non-akademik
atau bahkan ada juga yang pandai berorganisasi.
Tanpa disadari juga, pada saat seseorang memasuki
lingkungan akademik yang salah satunya adalah lingkungan kampus, maka semua
aktivitas dan kepribadiannya akan terbawa oleh lingkungan tersebut. Berbeda hal
nya jika seorang mahasiswa tidak puas akan pengalamannya dalam bidang akademik
saja, mereka pun akan memilih berkecimpung dalam organisasi juga.
Akademik adalah seluruh lembaga
pendidikan yang bersifat akademis. Artinya bersifat ilmiah, ilmu pengetahuan, dan
teori tanpa arti praktis yg langsung. Akademik ini bersifat formal baik
pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan
kejuruan maupun perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam
satu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi, dan atau seni
tertentu. Sedangkan kegiatan non
akademik biasa disebut dengan kegiatan ekstrakulikuler. Yakni kegiatan diluar
materi pelajaran wajib. Ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilakukan siswa
sekolah atau universitas, di luar jam belajar kurikulum standar.
Kegiatan-kegiatan ini ada pada setiap jenjang pendidikan dari sekolah dasar
sampai universitas. Kegiatan ekstrakurikuler ditujukan agar siswa dapat
mengembangkan kepribadian, bakat, dan kemampuannya di berbagai bidang di luar
bidang akademik. Kegiatan ini diadakan secara swadaya dari pihak sekolah maupun
siswa-siswi itu sendiri untuk merintis kegiatan di luar jam pelajaran sekolah
atau universitas (Fathia, 2014).
Hanya saja penyebutan nama ekstrakulikuler tidak lagi
terdengar di dunia perkuliahan, sebagai penggantinya ada UKM yaitu Unit
Kegiatan Mahasiswa, yang di dalamnya juga terdapat suatu orginisasi mahasiswa
guna menumbuhkan jiwa-jiwa mampu berorganisasi sejak dini. Karena semakin
dewasanya usia, akan memungkinkan untuk melanjutkan kehidupan memerlukan bekal berorganisasi
agar dapat bertahan hidup menghadapi masyarakat luas.
Organisasi
adalah lingkungan penyempurna dari lingkungan akademik. Oleh karena itu
organiasi adalah penyempurna lingkungan akademik. Tidak bisa dipungkiri ilmu
pengetahuan yang didapat dari dalam kelas kuliah hanya sebatas ranah kognitif
saja (pikiran). Apabila dilengkapi dengan organisasi maka akan berkembang ranah
afektif (sikap) dan psikomotorik (perilaku). Sehingga lengkap sudah kemajuan
tiga ranah dari individu yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik (Ikamaro, 2013)
Namun, dalam
konteks akademik ini mahasiswa mempunyai tanggung jawab lebih terhadap
almamaternya maupun terhadap diri sendiri dan orang tua agar di masa
perkuliahnya mampu menghasilkan predikat yang memuaskan dan lulus tepat waktu.
Bagaimana pun juga sisi lain mahasiswa sebagai “Agen Perubahan Sosial” tak
kalah pentingnya untuk dilakukan. Bahkan predikat ini sudah mengakar pada
masyarakat umum bahwa mahasiswa merupakan generasi terdepan dalam menatap
perubahan masa depan bangsa.
Ada kalanya mahasiswa dihadapkan situasi kondisi dimana mahasiswa harus menyibukkan
diri dengan akademiknya atau organisasinya. Oleh karena itulah, kemudian dilahirkanlah
beberapa tipikal mahasiswa. Pertama,
adalah mahasiswa akademik, mahasiswa model ini cenderung terjebak
pada suasana formalitas dan menganggap bahwa ruang kuliah merupakan medium
satu-satunya sumber ilmu tanpa ingin berbaur berorganisasi dengan yang lain. Seringkali
mahasiswa tipe ini gagap ketika berhadapan pada persoalan nyata yang terjadi di
masyarakat. Padahal mahasiswa mempunyai tanggung jawab sosial. Begitupun dalam
dunia kerja, ketika gagal dalam persaingan sesuai jurusannya, otomatis menjadi
pengangguran terbuka, karena tidak mempunyai kemampuan yang lain (Laka, 2013).
Kedua, adalah mahasiswa aktivis. Tipekal mahasiswa ini memiliki
kesadaran sosial bahwa label mahasiswa tidak hanya mempunyai tugas akademik,
tapi juga mempunyai tugas sosial. Segudang agenda kegiatannya dalam
berorganisasi terkadang membuatnya melupakan tugas utama, yaitu kuliah. Bisa
dikatakan ia tercabut dari akar akademiknya. Berbeda hal nya dengan
aktivis “founding fathers” kita
seperti Bung Karno dan Bung Hatta yang justru tidak hanya fokus berorganisasi
tetapi juga fokus dalam akademiknya. Adalah realitas yang maklum jika mahasiswa
model ini acapkali mendapat gelar MA (mahasiswa abadi) sebelum lulus. Mahasiswa
ini pada umumnya bekerja tidak sesuai bidang kuliahnya, karena mereka banyak
memiliki kemampuan hidup terbuka. Rata-rata
orang seperti ini mudah mencari kerja, jelas mereka banyak jaringan, mudah
bergaul dan bisa beradaptasi dalam pekerjaan apapun.
Ketiga,
ialah mahasiswa aktivis yang akademis. Pada tipe ini mahasiswa memiliki
kesadaran akademik sekaligus kesadaran sosial. Atau kata lain tipe ketiga ini
hasil dari antitesis antara mahasiswa akademik dan mahasiswa aktivis. Mahasiswa
ini menganggap kuliah juga harus diselesaikan. Tipe mahasiswa ini memiliki
kelebihan dintara kedua tipe mahasiswa. Yang pada dasarnya keilmuan yang
dibangun tidak hanya sebatas diruang kuliah saja. Pada tipe ini, sangat relevan
dan sangat dibutuhkan dalam membangun Bangsa Indonesia ke depan.
Pada tipe
yang terakhir, seringkali disebut mahasiswa masa bodoh. Baik tidak peduli
dengan tanggung jawab akademiknya maupun tanggung jawab sosialnya terhadap
lingkungan sekitar. Mahasiswa tipikal ini biasanya mempunyai kecenderungan
hidup hedonis, semaunya, tidak
peduli terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Intinya hidup mengalir apa
adanya, hingga akademik pun tidak punya target yang muluk-muluk.
Untuk itu, terdapat cara bagaimana
membuat akademik dengan organisasi berjalan seimbang sebagaimana mestinya,
yaitu diantaranya dengan mencermati jadwal kuliah. Dengan memastikan ada atau
tidaknya jadwal yang bentrok antara kuliah dengan organisasi akan meminimalisir
ketidak seimbangan tersebut. Selanjutnya dengan memprioritaskan kegiatan apa
yang perlu dilakukan lebih dahulu dan tidak lupa dengan memfokuskan pikiran
untuk menyelesaikan kegiatan satu per satu. Dan yang terakhir ialah menaati
rencana atau agenda yang sudah dirancang. Meski terasa berat di awal, dengan
keyakinan tentu rencana baik akan menjadi kebiasaan dalam kehidupan
sehari-hari. Dan inti dari kesemuanya adalah sebagai mahasiswa yang ingin
sukses, manajemen waktu adalah yang terpenting. Karena mahasiswa yang mampu
menyeimbangkan antara akademik, penelitian dan organisasi akan menjadi
mahasiswa yang bermanfaat bagi orang lain dan kontribusinya dibutuhkan oleh
dunia.
Daftar Pustaka
Fathia, Riza Nurul. (2014, August 21).
Keseimbangan
Pendidikan Akademis dan Non-Akademis. Retrieved from August 21, 2015, from http://www.kompasiana.com/rizanurul/keseimbangan-pendidikan-akademis-dan-non-akademis_54f5fc4fa3331184108b4675
Laka, Abu. (2013, February 22). Akademik OK, Organisasi Yes. Retrieved from August 21, 2015,
from http://www.kompasiana.com/abulaka/akademik-ok-organisasi-yes_551f6b2ca333114340b65ab0
PT. Joblik Indonesia. (2014, July 8). Kiat Seimbangkan Kegiatan Akademik
dan Organisasi. Retrieved from August 21, 2015, from http://yukerja.com/learning/kiat-seimbangkan-kegiatan-akademik-dan-organisasi

0 komentar :
Posting Komentar