Tokoh Terpandang Bidang Keperawatan dan Sejarah Singkat Keperawatan Profesional di Indonesia
Perawat adalah mereka
yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan tindakan keperawatan
berdasarkan ilmu yang dimilikinya yang diperoleh melalui pendidikan keperawatan
(Undang-Undang Kesehatan No.23, 1992). Menurut Husein, seseorang dapat dikatakan profesional jika mereka memiliki ilmu pengetahuan,
keterampilan keperawatan profesional serta memiliki sikap profesional sesuai
kode etik profesi. Hal tersebut dapat dibulatkan bahwa yang dikatakan
keterampilan keperawatan tidak hanya dapat terampil melakukan prosedur
keperawatan, namun juga mencakup keterampilan intelektual, interpersonal dan
teknikal (Husein, 1994)
Adapun sejarah singkat
mengenai keperawatan profesional di Indonesia. Dibagi menjadi beberapa masa,
yakni masa sebelum kemerdekaan sampai ke masa setelah kemerdekaan termasuk
sekarang ini. Berbagai masa telah dialami oleh sebagian rakyat dalam menerima keperawatan.
Di masa penjajahan contohnya, di awal ketika Belanda dan Inggris masuk ke
Indonesia, telah banyak usaha-usaha peningkatan kesehatan diabdikan untuk
Indonesia. Seperti membentuk dinas-dinas kesehatan untuk tentara maupun rakyat,
bahkan usaha pendirian rumah sakit juga telah dilakukan pada zaman itu. Dan seiring berjalannya waktu, seolah keperawatan
telah berkembang dengan sendirinya, maka pencacaran
umum, cara perawatan pasien gangguan jiwa, perhatian kesehatan akan perawatan
para tawanan pun juga dilakukan. Sampai pada puncaknya di tahun
1819, didirikanlah beberapa rumah sakit di
Jakarta, salah satu nya adalah Rumah Sakit Stadsverband di Glodok,
Jakarta Barat. Rumah sakit ini dipindahkan ke Salemba pada tahun 1919 yang sekarang resmi menjadi RSCM.
Namun, tidak selamanya Indonesia
berada di masa kejayaan. Kekalahan tentara sekutu dan
kedatangan tentara Jepang tahun 1942-1945 menjadikan
masa itu masa tergelap di dunia Keperawatan Indonesia. Berbeda dengan pekerjaan
perawat pada masa penjajahan Belanda dan Inggris yang dikerjakan oleh perawat terdidik,
sedangkan pada masa penjajahan Jepang tugas perawat dilakukan oleh bangsa Jepang
itu sendiri, yang berakibat minimnya jumlah obat-obatan yang tersedia sehingga
wabah penyakit timbul dimana-mana.
Selanjutnya,
tidak terlalu banyak
perkembangan di bidang keperawatan. Seiring berjalannya waktu juga sudah banyak perubahan dalam pelayanan, tempat, bahkan tenaga lulusan akademi keperawatan yang kini banyak diminati oleh rumah sakit. Hingga pada puncaknya muncul kesepakatan lokakarya nasional pada Januari 1983 tentang pengakuan dan diterimanya
keberadaan keperawatan sebagai suatu profesi dan pendidikan berada pada
pendidikan tinggi, maka pada
tahun 1984, diberlakukanlah kurikulum nasional untuk D3 Keperawatan. Tahun 1985 awal
di buka nya program S1 keperawatan di UI, dan tahun 1992 tahun penting bagi profesi keperawatan
secara hukum keberadaan tenaga keperawatan sebagai profesi di akui dalam UU
No.23 tahun 1992 tentang kesehatan.
Sejarah keperawatan
tidak sekedar sampai di Indonesia saja. Namun pada zaman purbakala (Primitive
Culture) dulu pun sistem keperawatan telah ada, sampai pada munculnya Florence
Nightingale sebagai pelopor keperawatan yang berasal dari Inggris (1820)
menjadikan profesi perawat mulai dipercaya banyak orang. Pada saat perang
Crimean War, Florence ditunjuk oleh negara Inggris untuk menata asuhan
keperawatan di RS Militer di Turki. Hal tersebut memberi peluang bagi Florence
untuk meraih prestasi dan sekaligus meningkatkan status perawat.
Julukan nama Florence
“ The Lady of the Lamp” kerap memunculkan perubahan besar dimana
sekolah-sekolah perawat mulai bermunculan dan Florence membuka sekolah perawat
modern pada kisaran tahun 1840 di Inggris. Konsep pendidikan Florence inilah yang
pada akhirnya mempengaruhi pendidikan keperawatan di dunia.
Tokoh perawat profesional lainnya
salah satunya adalah Prof. Dra. Hj Elly Nurachmach, Skp, MApp Sc, DN Sc,
merupakan seorang dekan FIK UI. Beliau adalah profesor pertama di Indonesia dalam
bidang keperawatan, merupakan seorang Doktor Ilmu Keperawatan ( Keperawatan
Onkologi ) Catholic University of America, Washington DC tahun 1998.
Seorang Master Keperawatan Medical Bedah juga di “The University of Sydney”,
Australia tahun 1990.
Berawal dari mimpi bahwa perawat
Indonesia harus bergelar sarjana dan melihat kenyataan bahwa pada tahun 1991
perawat bergelar sarjana hanya 3000 orang, dan 250 ribu perawat hanya bermodal
pendidikan pas-pasan. Beliau berusaha mengatasi ketertinggalan dengan cara mendirikan
Asosiasi Institusi Pendidikan Nurse Indonesia (AIPNI) pada tanggal 29 Juni
2001. Visi dari AIPNI adalah menjadi wadah institusi penyelenggara pendidikan
yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan masyarakat, pengembangan teknologi
keperawatan melalui penyelenggaraan proses pendidikan Ners yang berwawasan
global (PPNI, AIPNI, AIPDIKI, (n.d.)).
Pengaruh karyanya yang
begitu besar membawa negara mampu dikenal dunia dengan prestasi yang unggul.
Begitu menginspirasi generasi penerus untuk lebih mengukir karyanya dalam
membangun bangsa ke arah kemajuan tentunya dalam bidang kesehatan ini.
Daftar Pustaka
Dewi D. (n.d.). Sejarah
keperawatan di dunia diawali pada zaman purbakala. Retrieved August 18, 2015,
from: http://www.academia.edu/6280384/Sejarah_keperawatan_di_dunia_diawali_pada_zaman_purbakala
Gaffar,. L.O.J. (1999). Pengantar
Keperawatan Profesional, Jakarta : EGC
Hidayat
A. Aziz Alimul. 2007. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan Edisi 2.
Jakarta: Salemba Medika
Kutipan dari Naskah Akademik Pendidikan
keperawatan Indonesia oleh PPNI,AIPNI,AIPDIKI dan dukungan dari Kemendiknas
(Project HPEQ 2009-2015)
Nisya
Rifiani dan Hartanti Sulihandari, (2013), Prinsip-Prinsip
Dasar Keperawatan. Jakarta: Dunia
Cerdas.

0 komentar :
Posting Komentar