Sayup-sayup dari balik pintu kamarku kudengar suara gaduh seperti orang berjalan bolak-balik dan tak jarang terdengar suara seperti orang sedang gelisah memanggil seseorang yang lain. Dengan kesadaran yang minimal dan pusing yang melekat mesra di keningku, kujejalkan kakiku ini ke dalam
selop berbulu yang akan setia menemaniku.
Langkahku semakin mantap seiring nyawaku yang semakin menyatu
dengan raga ini. Dengan rasa penasaran dan percaya diri aku menghampiri sumber suara untuk segera menanyakan "ayah, bunda, kenapa sih kok pagi-pagi ribut?". Namun sebelum pertanyaan itu terlontar, mataku membelalak seakan tidak percaya dengan apa yang aku lihat barusan. Ya, aku melihat darah mengalir
melintasi kedua sisi kaki bundaku. Aku mengerti sekarang. Ayahku sedang panik melihat kondisi bundaku saat ini dan sedang menghubungi saudara ayah untuk segera ikut ke rumah sakit. Setelah aku berfikir cukup lama, aku melihat ayah menggendong tubuh lemas ibu menuju mobil.
Begitu ayahku melihat sosok aku yang
tengah tertegun melihat kejadian itu, ia berpesan kepadaku.
“Nak, ayah mau antar bunda ke rumah
sakit dulu ya. Pasti kamu akan senang bukan kalau adik bayi di perut bunda cepat
lahir?”
Ayahku memang mengerti, tentu saja aku
menginginkan adik yang dikandung bunda itu cepat lahir, karena memang akulah
yang menginginkannya. Sebab, bagiku lebih menyenangkan rasanya jika aku tidak
lagi menjadi anak bungsu.
“Iya ayah, Caca akan sangat senang!”
sahutku mantap. Dan Caca adalah panggilan singkat dari namaku, Callista.
“Yaudah, kamu mandi sana biar ilernya
ilang tuh. Berangkat sekolahnya juga nanti sama mas Ariel aja ya..”
“Hehehe iya ayah.. Hati-hati ya ayah, bunda.” jawabku malu-malu
***
Selesai mandi dan berpakaian rapi, aku sarapan
walau hanya sesuap nasi saja dan segelas susu. Tapi memang itulah kebiasaanku dari orok, aku kurang
menyukai nasi. Tapi aku tetap sehat, karena sesuap nasi saja sudah cukup membuat tubuhku kembali
bertenaga. Usai sarapan, aku bersiap-siap memakai sepatu tali yang itu membuatku kepayahan.
“Eh, Ca. Cepet dikit dong! Pakai sepatu
aja seabad-_-“
“Hhh, iya kak. Kenapa buru-buru sih? Kan
baru jam 6?”
“Bukan urusan kamu!” ketusnya
“…” dengusku akhirnya untuk yang
kesekian kalinya telah dibentak oleh kakaknya.
Kakakku, Ariel memang hobi memarahiku.
Mungkin karena kasih sayang orang tuaku yang lebih ditujukan untukku, sehingga
dia merasa bahwa akulah yang merebut semua itu darinya. Dan karena itulah ia
melampiaskannya padaku dengan cara yang cukup kasar bagiku.
***
Seusai pulang
sekolah, ayahku menjemput aku dan kakakku di sekolah, dan langsung menuju rumah sakit dimana bundaku telah usai berjuang mati-matian melahirkan adik bayi yang kutunggu-tunggu.
Namun aku melihat raut di wajah ayah yang sulit kuartikan. Raut wajah itu penuh kesedihan. Namun kurasa ia sedang berusaha menutupinya dengan berpura-pura
tegar di hadapan kami. Dan aku mencoba untuk memecah keheningan yang sedari
tadi ada selama perjalanan.
“Ayah, ayah.
Adik bayi nya udah lahir kan? Apa mereka selamat?” tanyaku setengah meragu.
“Iya, Caca..
Tentu saja selamat, toh adik bayinya juga lucu-lucu. Cantik dan tampan seperti
kamu dan mas Ariel.” Ucap ayah jujur
“Wahh, rasanya
aku ingin secepatnya melihat mereka! Kalo bunda gimana keadaannya, yah? Pasti rasanya
sudah lega karena perutnya nggak seperti balon lagi.” ujarku
“Hmm..” gumam
ayah disusul dengan diam sejenak seakan sedang memikirkan sesuatu. “Ya, bunda
tadi sedang tersenyum.”
***
Setibanya di
rumah sakit, begitu terkejutnya aku mendapati kedua adik bayi ini tidur
seranjang. Benar kata ayah tadi, mereka begitu cantik dan tampan. Mereka kembar
rupanya! Begitu menggemaskan. Tapi… ada sesuatu keganjilan di ruangan ini, aku
tak melihat bunda daritadi.”
“Ayaaah, bunda
ke mana ya? Apakah sedang mandi? Atau sedang berganti pakaian?” tanyaku polos.
“Caca… ayah
ingin memberitahumu, tapi mungkin kamu belum begitu mengerti soal kehilangan. Ya,
bundamu sekarang sudah bahagia di surga sana. Bunda tadi kehabisan nafas setelah
melahirkan adik bayi itu. Tapi bunda tidak menyalahkan siapa-siapa, bunda ikhlas mempertaruhkan nyawanya sekalipun untuk keselamatan mereka dan kebahagiaan kamu..”
Benar saja aku
tidak mengerti betul maksud ayah. Yang aku tahu sedikit, surga adalah tempat
yang paling indah untuk orang-orang baik ada di dalamnya. Maka dari itu aku langsung percaya
bahwa bunda akan bahagia. Tapi kalau bunda takkan bersama lagi denganku beda
lagi urusannya.
“Tapi, yah..
apa bunda masih bisa main bareng lagi sama Caca?” Tanyaku mulai menitikkan air
mata.
“Tidak, Caca..
Sekarang bunda hanya bisa menjaga dan memerhatikanmu saja walau bunda takkan
terlihat lagi. Tapi ayah yakin, bunda ada di dekat kamu.” Usap lembut ayah pada
rambutku.
“Yaaahh…
padahal sekarang aku pengin cerita banyak sama bunda. Caca pingin ketemu bunda...” Isakku semakin menjadi
dan langsung disambut hangat oleh pelukan ayah.
***
Melihat
percakapan antara Callista dan Ayah, Ariel ikut sedih dan menjadi iba dengan Callista. Melihat
Callista yang begitu membutuhkan bunda, sekarang merasa sangat terpukul karena
kehilangan yang secara tiba-tiba. Maka Ariel berniat untuk bisa menggantikan posisinya menjadi posisi bunda di hidupnya. Mungkin Ariel juga akan melatih sedikit demi sedikit untuk tidak kasar dan kembali berlaku baik kepadanya. Ia
pun juga baru menyadari bahwa wajar saja anak terakhir yang lebih dimanjakan,
karena selain umurnya yang terbilang jauh lebih muda, hidupnya juga masih tergantung pada
orang-orang yang lebih tua dan yang lebih ia percaya. Ariel menyesal saat itu.
***
Bayangan peristiwa 5 tahun yang lalu masih
kuingat jelas alurnya di pikiranku, yang kemudian rasa rinduku pada bunda
berbaur menjadi haru. Sekarang aku telah duduk di bangku SMA kelas 1. Padahal
umurku baru 13 tahun dan seharusnya aku masih duduk di bangku kelas 8
SMP. Sepeninggal bunda, aku memang bertekad untuk lebih semangat belajar untuk membuat ayah senang dan mau
tak mau, karena prestasiku itulah guruku menganjurkan aku untuk masuk ke dalam
kelas akselerasi dengan naik 2 tingkat, dan itu berarti pula aku harus setara
dengan kak Ariel. Benar saja, sekarang aku sekelas dengannya. Perlakuan kak Ariel kepadaku benar-benar berubah 180⁰, hal itu aku rasakan setelah bunda meninggalkan dunia ini, dan itu membuatku semakin sayang kepadanya. Sekarang pun aku juga merasa tidak kesepian setelah ditinggal bunda, karena masih ada ayah, kak Ariel, dan saudara-saudaraku yang begitu perhatian padaku selain itu juga kedua adikku yang semakin hari semakin menggemaskan.
Dan di pagi cerah ini, seperti biasa
sebelum aku berangkat sekolah aku selalu mengantarkan kedua adikku bersekolah
di taman kanak-kanak. Namun karena sekarang aku sedang libur sekolah sebelum semester genap, aku memutuskan untuk sekalian menunggu kedua
adikku sampai waktu pulang sekolah tiba. Hal yang paling aku suka akhir-akhir
ini. Karena di samping aku yang menyukai anak kecil, aku juga senang dengan apa
yang sering aku lakukan semasa kecil. Ya, kini aku tengah berayun di bawah
pohon rindang yang sedikit mendapat guyuran sinar mentari dari celah-celah
daunnya. Aku juga sengaja memetik bunga warna-warni sebagai mainan yang tadi
sempat kupetik sembarang dari taman seberang jalan sana. Ketika sedang asyik
mematut diri menatap jalan kosong, seseorang menepuk pundakku.
“Heyyy! Bengong aja! Nanti kesambet
loh.”
“Aduhh kaget banget gue. Jantung gue loncat lo harus tanggung jawab!”
“Hahaha, yaampun segitunya banget. Maafin deh maafin.”
“Jangan sok kenal sok deket deh. Lo
siapa? Hay hey hay hey. Sejak kapan nama gue berubah jadi hey-_-“ omelku karena
merasa bahwa seseorang dihadapanku adalah orang asing.
“Hahaha ternyata Caca yang sekarang
masih sama kayak yang dulu ya. Galak dan lugu.”
Yang dulu? Berarti sebelumnya orang ini pernah
mengenal aku dong? Jujur aku sedikit lupa dengan masa lalu aku yang kelam. Tapi setelah
kuamati wajahnya, aku bisa mengenalinya sedikit demi sedikit lewat tahi lalatnya
yang terukir manis di dagunya. Ya! Dia Farel! Teman TK-ku dulu. Sungguh aku
melihat banyak perubahan dari dirinya yang dulu. Kulit dia yang dulu hitam mungkin karena terbakar sengatan matahari, kini menjadi putih bening, aku menjadi heran, mungkinkah seorang
lelaki juga melakukan perawatan rutinitas tubuhnya? Namun, tak banyak juga yang
hilang darinya, jambul di rambutnya masih sama seperti dulu dan tak pernah roboh meski diterjang angin. Maka setelah
adanya pertemuan ini, ingin sekali rasanya menjambak rambutnya karena rindu. Rindu pernah bermain bersama tanpa mengenal waktu dan mengenal apa itu masalah. Waktu
telah lama memisahkan jarak antara kami dan bahkan tanpa menyisakan jejak
kenangan yang berarti.
“Eh, lo Farel kan?!” sontak aku pun
langsung menyambutnya dengan pelukan tiba-tiba sehingga membuatnya sedikit
kesakitan. “Elo pergi kemana ajaa? Asal lo tau, gue kangen banget sama elo,
Rel! Mana rumah lo sekarang sepi banget lagi.” Ujar ku setengah dramatis
“Ahh, lebay lo, Ca! Gua aja biasa aja
yee.” Sahutnya sambil menjulurkan lidah padaku.
“… jahat” ucapku sambil manyun.
“Hehehe, jangan manyun doong, ntar
jenongnya tambah lebar looh.” Katanya sambil tertawa puas.
“Ah apaan sih, Rel!” Sergahku sembari
menjambakki rambut lebatnya.
Dari dulu hingga sekarang dahiku
memang begitu, maka poni pendekku kubiarkan tergerai hingga menutupi dahi.
Sejak itulah Farel juga mengataiku dengan sebutan poni mangkuk. Tapi menurutku
poni jenis ini membuat seseorang menjadi lebih terlihat imut seperti anak kecil.
Dan aku suka.
“Iya, Ca. Ampun dehh, ini sakit beneran
kulit kepala gue. Gue kangen kok sama lu, terutama sama jenong lu! hehe”
jelasnya dengan cengengesan.
“Yeee, yaudah. Karna kasian aja gue
lepasin. Omong-omong lo ngapain ke sini? Gak sekolah?”
“Enggak, gue lagi liburan aja. Jadi,
nungguin adik deh.”
“Oh, ikut-ikut aja sih libur.”
“Yeee, suka-suka. Oh ya, adik lo kembar
ya? Lucu banget deh, mana gandengan terus gitu serasa gak pingin pisah yaa.”
“Hahahaha, iya benerr.”
“Daripada lo sendirian aja, ke tukang
bubur ayam sana aja yuk. Kebetulan cacing perut gue udah merengek kelaperan
nih.” Ajaknya sambil memegangi perutnya dengan raut kasihan.
“Hmmm, Ayok aja deh!”
***
Malam hari ini aku dan kak Ariel sedang
berada di ruang santai untuk menonton film horror berdua. Yang aku lakukan
bukannya menonton malah melamun membayangkan kejadian tadi siang bersama Farel.
Dan aku baru sadar dari lamunan ketika kak Ariel memukulku dengan bantal kursi.
“Woyy! Lu lagi nonton nggak si?” ucapnya
sambil menimpukku dengan bantal.
“Eh, Emm.. nonton kok nonton. Seru banget
ya kak, romantis bangeett!” sahutku asal.
“Ckckck, orang ini film hantu kenapa
jadi romantis? Mana daritadi elu senyum-senyum sendiri lagi. Bikin aku tambah
merinding tau gak. Hmm, atau jangan-jangan lu lagi jatuh cinta ya, Ca?? Hayo
ngakuu.”
“Hehehe, ya udah maaf deh udah bikin lu
merinding. Umm, enggak jatuh cinta juga sih sebenernya, cuma tadi pas nungguin
si Tania dan Titan aku ketemu temen TK aku dulu. Namanya Farel, itu tetangga RT sebelah.”
“Mana aku tahuu. Ohh, terus?”
“Terus aku diajak makan bubur ayam
berdua, kak. Daripada bosen nunggu di TK-nya. Nah, kami ngobrol banyaak banget.
Tentang sekolah dia yang ternyata ada si Singapura, sampe dia yang punya cerita
soal ayahnya yang kerja di rumah sakit. Dan yang paling menyenangkan, pas
makanku berlepotan, dia lap pake tissue. Ya, aku lucu aja baru sekali ketemu, aku langsung malu-maluin di depan dia.”
“Hahaha cie banget dah ah. Entar
lama-lama lu suka sama dia dan si Rian dilupain dehh! Hahaha”
“Yaelah, Rian playboy kok diharepin.
Buat kakak aja deh mendingan!”
“Wihh, lu kira aku homo akut apa-_-“
Rian adalah teman sekelas aku dan kak
Ariel. Memang betul aku menyukai Rian karena wajahnya yang imut dan
kepintarannya dalam menarik hati semua wanita yang dikenalnya, termasuk aku.
Padahal, aku tahu benar semua tentang dia. Dia yang hanya mempermainkan dan
memanfaatkanku. Tetapi, itu tak cukup membuatku sadar juga, karena cinta
membutakan mata, hati, dan pikiranku. Kecuali, kalau ada penggantinya memang.
Ya, kurasa Farel lah yang akan menggantikan posisi Rian di hatiku.
***
Akhir pekan pun datang. Hari di mana
yang paling ditunggu-tunggu oleh kebanyakan orang karena memang merupakan hari
dimana segala kepenatan yang dipendam harus dilepaskan, apalagi bagi yang bersekolah ataupun yang
bekerja di perkantoran. Sama seperti aku. Mumpung kedua adikku sedang
libur sekolah, aku pun mengajak mereka bersepeda di sekitar taman. Kak Ariel
tidak ikut, karena ia harus mencuci mobil bersama ayah di rumah. Udara segar
kuhirup seirama dengan nafasku. Ketika aku sedang menyeberang jalan, mobil ungu
tua dari arah kiri melaju nyaris menabrak sepedaku. Sungguh, ingin rasanya aku
melabraknya dengan bermacam makian. Aku hanya khawatir saja, kalau aku
kehilangan keseimbangan, aku akan menjatuhkan kedua adikku yang sedang duduk
manis di jok belakangku. Maka kusampirkan sepeda ini ke tepi jalan dan segera
menghampiri si calon penabrak.
“Heh! Siapa di dalam?! Apa Anda
bermaksud ingin mencelakai kami?! Mentang-mentang pakai mobil, seenaknya aja
pakai jalan ini tanpa hati-hati. Udah tau di sini banyak anak-anak!”
Pemilik mobil pun membuka kaca mobilnya.
Dan terkejutlah aku ketika muka Farel nongol dari balik kaca. Ya ampun. Matilah
aku-_-
“Maaf mba, maaf banget, tadi saya
lagi khilaf. Tapi mba tidak luka sama sekali, kan? Apa mau minta ganti rugi?
Berapa mba berapa? Hehe”
“Iiiiih, Farel nyebelin banget sih!”
“Hehehe emang. Lo mau ngapain Ca sama
adik-adik lo itu? Gue ikut dong.”
“Mau ke taman. Beli jajanan.”
“Beli jajanan aja pake ke taman, di
warung juga banyak padahal.”
“Hemm iya sih, ya udah mau bengong aja
gue.”
“Mending ikut gue yuk ke SeaWorld aja
gimana?”
“Hah? Serius? Gue mau, gue mau!”
“Iya, tapi adik-adik lo main ke rumah
gue aja. Lagi ada Sesil sama Rama tuh.. Biar kita berdua aja.”
“Iya deh. Tapi gue izin sama Ayah gue
dulu ya.”
***
“Ca, lo pernah
ke tempat ini sebelumnya?”
“Belum, Rel.
Jujur gue seneng karena elo yang pertama ngajakkin gue ke tempat yang selama
ini gue inginkan. Ikannya keren-keren banget. Gimana ya kalo tiba-tiba kaca ini
ancur? Gue bakal takut banget sama hiunya.”
“Hahaha,
berarti gue udah ngabulin keinginan lo dong secara gak sengaja? Tenang aja, jangan takut, kan ada gue, Ca.”
“Iya, makasih
banyak kalau begitu. Yeee gombal.”
“Oh ya,
imbalannya lu harus foto bareng ya sama gue. Pasti bagus banget deh, biru-biru
gimanaa gitu.”
“Ah, dasar.
Bilang aja lu emang pingin foto bareng orang cantik. Haha”
“Ya, terserah
elo deh mau ngomong apa.” Sahutnya sambil mencubit hidungku. Namun, secara
tiba-tiba ternyata dia sudah mengklik tombol di kameranya. Padahal, aku belum sempat berpose sama sekali, lebih tepatnya aku sedang manyun karena sebal telah
dicubitnya. Tapi hasilnya lumayan.
***
Menjelang waktu maghrib, Farel mengantarkanku pulang ke
rumahnya terlebih dulu untuk sekalian menjemput kedua adikku. Ketika dipersilahkan
masuk ke dalam rumahnya, tanpa sengaja kutemukan surat dokter yang menyatakan
bahwa ia sebenarnya menderita penyakit jantung bawaan dan ia harus
dilarikan ke rumah sakit di Singapura untuk perawatan intensifnya. Aku benar-benar tak menyangka dengan kenyataan itu. Dan mataku
tiba-tiba terasa panas hingga rasanya ingin mengeluarkan air mata. Dan ketika
ia datang menghampiri untuk memberi minuman padaku, sontak aku menjatuhkan
surat tadi dari genggaman tanganku. Dan aku segera berjalan cepat ke luar
rumahnya agar tak kentara bahwa aku sedang menahan tangis.
Ia segera menyusulku keluar dan langsung menyuruhku ke
taman belakang rumahnya. Ia menjelaskan secara detail mengenai kebohongannya
selama ini. Bahwa ia ternyata tidak sekolah di Singapura. Tetapi, soal
pekerjaan ayahnya sebagai dokter di Singapura adalah benar. Dan ia juga
berterus terang bahwa ia jauh-jauh datang ke Indonesia hanya untuk menemui aku.
“Kalau kamu nggak mau mempercayai itu, enggak apa-apa. Tapi
aku udah jujur. Maafin aku, Ca. Aku cuma gak mau kamu menjauhi aku karena aku menderita penyakit kronis.” Jelas Farel. “Kamu tahu? Setiap ada kesempatan aku
selalu datang ke Indonesia. Dan aku nggak pernah berhasil menemui kamu.
Padahal, aku ingin sekali kayak dulu. Itung-itung untuk ngabisin sisa waktu
terakhirku di dunia.”
“ Farel.. Tapi sekarang aku bertambah sedih setelah kamu
mengatakan itu. Apa sisa hidupmu sesingkat itu?” balasku dengan mata
berkaca-kaca.
“Jangan sedih begitu, Ca.. Iya, mungkin sudah tidak ada harapan
lagi, karena jantungku sudah benar-benar lemah kondisinya. Kecuali ada pendonor jantung yang bersedia mendonorkan jantungnya untukku. Tapi itu sangat kecil kemungkinannya”
“Aku bersedia mendonorkannya untukmu, Rel.”
“Nggak secepat dan
semudah itu.. Oiya Ca, aku sebenarnya sudah lama memendam rasa ini ke
kamu. Ya, sejak SD. Aku diam-diam mulai memperhatikanmu dari luar gerbang rumahmu. Intinya aku mulai jatuh hati sama kamu karena sifatmu. Setelah kamu kehilangan bunda kamu, kamu terlihat mandiri dan tegar dalam menjalani hidup. Ditambah kamu
yang sepertinya mulai menjadi tulang punggung keluarga dengan prestasimu yang
kian cemerlang. Aku bangga sama kamu, Ca. Walau manja, kamu tetap dewasa. Aku
mengagumimu, dan aku selalu semangat untuk hidup karena kamu, aku juga ingin belajar tegar dari kamu. Aku ingin sekali memilikimu, tapi
melihat kondisi fisikku yang semakin tidak menunjukkan perbaikan, harapku pupus. Namun hebatnya, hanya
dekat denganmu saja hidupku serasa kembali normal.” Jelasnya panjang lebar.
“Ya, terima kasih atas kejujuranmu. Sejak kita dipertemukan
kembali, aku sudah mulai nyaman ada di dekatmu. Dan mulai saat itu aku juga
menyimpan rasa yang sama seperti kamu.”
“Coba kamu lihat dengan teropong itu. Kamu lihat bintang
yang paling terang itu?”
“Ya, itu Venus, Rel. Kenapa dengan planet itu?”
“Aku sangat menyukai bintang senja itu. Kalau setelah ini
kamu akan merasa kesepian tanpa aku, kamu bisa melihatnya setiap hari. Dan itu
berarti kamu tak akan merasa kesepian lagi, karena seakan-akan aku selalu ada
untukmu. Sebentar ya, aku mau mengambil sesuatu untukmu.”
“Ya… aku akan di sini menunggumu.”
Setengah berlari dia memasuki rumahnya dan tak lama ia
kembali dengan membawa bungkusan dan syal merah miliknya.
“Untuk apa?”
“Aku ingin melihat kamu memakai syal milikku.” Katanya
ingin namun seperti memerintah yang kemudian ia mencabut bunga mawar merah dari
pot bunga miliknya. Sembari menggenggam erat tanganku penuh makna. “Dan ini, aku
persembahkan untukmu. Sampai menutup mata aku akan tetap mencintai kamu, Ca…”
ucapnya sungguh-sungguh. Kemudian ia merasa sesak tak termaafkan sambil menekan dadanya menahan rasa sakit yang teramat sangat. Aku
kesakitan sendiri melihat dia seperti itu. Aku ingin segera meminta pertolongan, namun tanganku terlanjur digenggamnya
semakin erat. Dan tak lama, ia menjatuhkan diri ke tanah berumput. Dan aku
hanya bisa terisak sejadi-jadinya melihat kondisi Farel.
“Rel, aku nggak tahan melihatmu seperti ini, aku panggil
ayah kamu yaa.” Rengekku kemudian.
“Nggak.. usah.. Ca.. aku ingin tertidur di pangkuanmu saja”
Setelah kubiarkan kepalanya bersandar di pangkuanku, Ia
merintih kesakitan ketika nafasnya yang mulai tersengal. Dan di akhir nafasnya
ia masih sempat berkata padaku.
“Jangan pernah melupakan aku ya, Ca.” ucapnya untuk yang
terakhir kalinya dan kemudian tersenyum tulus.
***
Hari ini hari
pemakaman Farel. Belum sempat ia kembali ke Singapura, ia lebih dulu
meninggalkan dunia. Dan hari ini hujan rintik-rintik yang berpadu dengan
suasana hatiku belum juga mereda hingga sore. Aku berjalan menyusuri makam
Farel sekali lagi dengan mengenakan payung. Aku menanti datangnya bintang senja
muncul di antara kami. Dan benar saja, beberapa menit kemudian bintang itu
muncul dan di bawahnya juga terdapat pelangi yang begitu indah dipandang mata.
Aku berharap, Farel dapat tenang dan bahagia di sana. Begitu juga dengan bunda.
Semoga mereka berdua bisa melihat, bahwa aku juga akan bisa bahagia tanpa
mereka yang telah pergi dan tak kembali. Pulang dari makam, aku langsung
merebahkan diri ke kasur. Teringat dengan bungkusan pemberian Farel yang belum
sempat aku buka sampai sekarang. Setelah kusobek, aku tahu apa isinya. Dan
ternyata itu adalah lukisan buatan Farel sendiri. Setelah ku dekap, lukisan itu
kupajang di ruang kamarku agar setiap saat aku selalu bisa mengingat dia.
*****