Separuh Aku
Bulir embun di pagi hari, ia mainkan dengan
manja. Tak seorangpun yang berdiri di taman ini karena awan
mendung belum usai menumpahkan segala beban beratnya jatuh ke bumi.
Sama halnya dengan Reina, seorang gadis jelita yang usianya belum genap 17 tahun harus menahan segala kepedihan di hatinya. Hatinya perih, meski tak berdarah. Namun rasanya seperti ada
beribu-ribu cupid telah menancap di sekujur hatinya. Bagaimana tidak, separuh dirinya telah
meninggalkan dirinya seorang diri untuk selamanya.
Saat ini Reina bingung tak punya arah dan tujuan
hidup mau kemana. Ia hanya bisa berdiam diri mungkin untuk waktu yang cukup lama. Saat ini jalanan masih kosong, setapak dua tapak ia langkahkan
tak menentu, dan pandangannya lemah ke arah bebatuan yang ia pijaki. Sesungguhnya bukan itu yang ia pandang, melainkan pikirannya sedang melayang ke masa-masa dimana sosok yang ia rindukan sedang bersamanya. Ya, Reina sangat membutuhkan Ray untuk berada di sisinya saat ini. Saudara kembar Reina, separuh
dirinya.
“Ray,
kamu tega. Apa kamu tidak memikirkan aku yang selalu memikirkanmu? Kenapa
kamu secepat ini pergi meninggalkan ku?!”
raung Reina dalam hati. “Haruskah kematian menjemput kamu, sementara
aku tidak? Itu sungguh tidak adil bagiku. Dan sekarang aku sendiri. Aku
tak punya siapa-siapa lagi di sini selain kamu. Orang tua kita entah dimana,
bukan? Aku sedih, Ray :”( Aku harus bergantung pada siapa?” Lanjutnya semakin frustasi.
Memang inilah jalan takdir Reina. Reina memang sedikit belum ikhlas atas kepergian Ray, mungkin karena ia belum cukup dewasa untuk menyelesaikan masalahnya seorang diri. Lima tahun yang lalu, orang tua Reina dan Ray memang memutuskan
untuk bercerai. Entah apa yang ada di pikiran keduanya, mereka tak mau ambil
pusing dengan tidak mau mengurusi Reina dan Ray lagi. Keduanya buta harta, dan bahkan
menelantarkan kedua anaknya di rumah besar itu, dan pergi meninggalkannya tanpa pamit. Kebutuhan hidup
mereka malah diurus oleh penjaga rumah mereka, yang seperti anaknya sendiri.
Dan hari ini, Reina tengah susah payah mengusir
bayangan Ray yang selalu menari-nari di otaknya. Tak kuasa, air mata kembali memaksa
untuk menyelinap keluar ketika Reina teringat dengan peristiwa seminggu yang
lalu. Bertepatan pada hari ulang tahunnya itu, Reina malah dibanjiri kesedihan yang teramat sangat.
Selesai pertandingan final sepak bola yang dimenangkan
oleh pihak sekolah Ray, tepat ketika penyerahan piala kepada Ray selaku kapten,
Ray meminta untuk dibawa ke pinggir lapangan karena merasa ia sudah tidak sanggup lagi berdiri. Reina yang sedari tadi
memperhatikan Ray yang dikerumuni banyak orang, segera turun menyeruak ke tengah-tengah. Melihat Ray, tubuh Reina ikut merasa gemetar dan kesakitan. Ia hanya bisa meneteskan air mata dan malah berfikir sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi pada Ray.
“Ray! Kamu kenapa tiba-tiba begini?!” Tanya Reina
gemetar menepuk-nepuk pundak Ray yang tak lama disambut isak tangisnya.
“Asma aku, Rei.. aku rasa kambuh lagi.. setelah sekian
lamanya gak kambuh.” Jawab Ray tersengal berjuang untuk tetap bernafas.
“Ayo kita ke rumah sakit sebelum semuanya terlambat!
Aku takut terjadi apa-apa sama kamu setelah ini.” perintahnya sambil
beranjak.
“Nggak usah, Rei. Aku ingin tetap disini bersama kamu.”
Sergah Ray menarik lemah tangan Reina agar kembali ke sampingnya. “Reina yang
aku kenal tidak sepanik ini. Dan berjanjilah Rei, kamu harus bisa ikhlas dan kuat dengan
semua kenyataan yang akan terjadi nanti. Meskipun itu begitu pahit. Dan kamu
harus mulai damai dengan kehidupan.”
“Apa maksud kamu, Ray? :”( “
“Dengan sendirinya kamu akan mengerti Rei”
“…” tangis Reina tak bersuara
“Selamat ulang tahun, Reina.. Ray sayang Reina, sebesar Reina menyayangi aku”
Belum sempat Ray merayakan hari kemenangannya dan hari
ulang tahunnya, kepergiannya lebih cepat mendahului. Reina ingat betul senyum
terakhir Ray yang terpasang khusus dipersembahkan untuknya. Dan dari situlah
Reina tersadar akan banyak hal. Jika Reina selamanya terhanyut dalam suasana
duka atas kepergian Ray, hidupnya pun akan terbuang sia-sia, dan tentunya Ray
akan tidak bahagia melihat Reina larut dalam kesedihannya. Maka Reina berjanji,
senyum tulus terakhir dari Ray tersebut akan selalu memotivasi dirinya untuk
selalu semangat menjalani hidup.
Pagi sebentar lagi akan bergulir menjadi siang. Angin
sejuk yang selalu Reina inginkan tiba-tiba membelai lembut tubuh rapuh Reina.
Dan bunga berwarna ungu berkelopak banyak mendarat mulus di ujung sepatu Reina.
Seakan bunga tersebut ingin diperhatikan. Reina putuskan untuk mengambilnya dan
spontan ia petik satu demi satu kelopaknya sembari membisikkan 2 kata itu
se-irama, “ada, tidak ada”. Dan terkesimalah Reina mendapati pilihan “ada” pada
petikkan kelopak yang terakhir. Itu bararti Ray tengah ada di dekat Reina walau
tak kasat mata. Reina pun tersenyum sekilas dan bergegas ke rumahnya mengemas
perlengkapan sekolahnya yang sudah tiga hari lamanya ia melupakan sekolah
dengan alasan ‘kematian’ itu. Dan ternyata, sekolah mampu membuatnya rindu.
Di perjalanan menuju sekolah, tepatnya berjalan kaki,
aura kurang aman tiba-tiba menyergapi diri Reina. Ia merasa ada seseorang yang
sedang mengikutinya dari balik punggungnya. Sialnya, setiap Reina menengok
mempergoki, orang yang mengikutinya itu selalu lebih cepat untuk bersembunyi. Dan
hap! Akhirnya Reina pun berhasil mengetahui siapa pelakunya! Ia sesosok
laki-laki yang terlihat sebaya dengan umur Reina. Wajahnya yang tampan dengan
paduan rambut berjambulnya menampilkan jelas kepanikan saat ditatap garang oleh
Reina. Sementara Reina dengan puasnya menyemproti lelaki itu dengan serentetan
omelan.
“Heh!! Siapa kamu!? Berani beraninya kamu mengikuti aku
sejak tadi! Apakah ada yang salah dengan diriku?! Ohh.. atau kamu memiliki
rencana untuk menjahatiku?! Kalau memang begitu rencanamu, aku akan segera lari
dari sini untuk mencari pertolongan!!”
Cewek
yang benar-benar unik. Lugu, jutek, galak, dan misterius. Ucap
lelaki itu dalam hati dan hanya bisa tersenyum kepada Reina sebagai bentuk
reaksinya.
“Ish, aneh betul! Bukannya menjawab pertanyaanku malah
seenaknya senyum-senyum! Sok manis!”
“Hahaha, emang manis :p yaudah kenalin namaku
Ezha. Aku sama sekali nggak bermaksud menjahatimu. Aku cuma sekedar
mengikutimu karena saat jalan dan melihatmu tiba-tiba aku penasaran. Bagaimana
tidak, kamu berjalan seperti melamunkan sesuatu. Terkadang kamu senyum-senyum
sendiri, dan tak lama juga kamu seperti orang patah hati yang ingin menangis.
Kukira kamu kesurupan.”
Mendengar penjelasan Ezha, mata Reina seperti ingin
keluar dari habitatnya saking kaget dan malunya karena telah melakukan hal
konyol seperti itu. “Apa?! Aku tidak seperti itu!!! Mungkin, tadi aku hanya
sedang latihan berekspresi untuk drama di pelajaran bahasa Indonesia nanti.
Memang salah?!” elak Reina asal
“ooh, hahaha. Yasudah, daripada kamu marah-marah terus
dan akan membuat semakin banyak keriput di mukamu, aku minta maaf.”
“Hhhh. Kamu selaluu saja membuatku ingin menamparmu
saat ini juga!” geram Reina.
“omong-omong kamu tahu sekolah SMA Kilau Indah dimana?”
“Disitu, dipertigaan deket tukang Mie Aceh kamu belok
kanan dan ikutin jalan terus belok kiri dan tepat setelah turunan disitulah
tempatnya. Emang kanapa?” Jawab Reina dengan nada ramah.
“Oke, aku calon murid baru di sekolah itu.”
“Apaaa?! Kenapa kita akan satu sekolahan?!-_-“
“Waaah, kalau begitu berangkat bareng ya!
Awal pertemuan antara Reina dengan Ezha memang suatu
kebetulan yang bagi Reina sangat menyebalkan. Namun berbeda hal nya dengan
Ezha, justru Ezha telah menaruh rasa untuk Reina sejak pandangan pertama. Dan
saat itu pula lah Ezha mulai berani mendekati Reina.
Lima bulan lamanya mereka bersahabat, akhirnya Ezha pun
menginginkan hubungan dengan Reina lebih dari itu. Maka berujunglah mereka pada
status ‘berpacaran’. Semenjak sepeninggalan Ray, sesungguhnya Reina sulit untuk
menaruh kepercayaan kepada lelaki lain. Dan sekarang berkat Ezha, kepercayaan
baru itu menjadikan pribadi Reina semakin kuat dan mandiri. Mimpi dan cita-cita
Reina pun satu per satu tercapai. Salah satunya yaitu seusai lulus dari SMA, Reina
mampu berkuliah di Universitas yang kaya akan kepandaian muridnya. Universitas
Sorbone.
Keberangkatan
Reina ke Negeri orang tersebut disambut pilu oleh hati Reina sendiri. Karena kenyataan
bahwa sebentar lagi mau tak mau ia harus
berpisah dengan Ezha selama 3 tahun. Mengetahui perasaan Reina, Ezha dengan
sayangnya mendekap lembut tubuh Reina.
Setelah dua tahun lamanya Reina menikmati masa
kuliahnya di kota Paris yang dingin, berita duka kembali mengocok fikiran
Reina. Diberitakan ia melalui sahabat karib Ezha, bahwa Ezha baru saja
mengalami kecelakaan hebat. Mobil Ezha memasuki batas portal siaga kereta api.
Sehingga ia turut terbawa arus hingga mencapai puluhan kilometer.
Seketika badan Reina menjadi lemas. Ia bingung apa yang
seharusnya ia lakukan saat itu. Maka setelah sekian lama berfikir keras akhirnya
ia memutuskan untuk terbang ke Bandung, kota asalnya. Berhasil ia jauh-jauh
dari kesedihan, kini harus ia rasakan kembali. Kepalanya berdenyut semakin
terasa, membuat bagian tubuh Reina yang lainnya pun ikut merintih. Lantas ia memanjatkan
do’a kepada yang kuasa agar Ezha diberi keselamatan terlebih dahulu.
Sesampainya Reina di depan pintu kaca ruangan rumah
sakit dimana Ezha terbaring tak berdaya, Reina begitu terkejut. Karena
didapatinya tubuh kekar milik Ezha dihiasi oleh alat-alat yang sangat asing
bagi Reina. Dan tak luput perban-perban menyesakkan itu turut menyelimuti
tengkorak Ezha. Tak hanya sekali Reina meringis ngeri melihat pemandangan
mengenaskan itu, maka tanpa basa-basi ia pun bertanya kepada Felix, sahabat
Ezha.
“Lix, sebenarnya apa yang telah terjadi dengan Ezha?
Gimana kondisinya?”
“Ya, seperti yang kamu lihat tadi. Dan kata dokter
bilang fungsi ginjal Ezha memburuk, Rei” ucap Felix setengah berbisik.
“Ditambah dia yang sekarang koma. Makanya dokter menyarankan dalam jangka waktu
360 menit terakhir ini ada pendonor yang siap dan sukarela membaginya satu
untuk Ezha sebelum nyawa Ezha tak tertolongkan lagi. Tapi sampai detik ini aku
masih kesulitan mencarinya.”
“ Aku.. Aku yang akan mendonorkan ginjalku untuknya.
Aku berharap ginjalku bisa cocok bila disatukan ke badan Ezha.”
“Kamu benar-benar malaikat, Rei.. aku sangat berterima
kasih atas pengorbanan tulusmu~”
“Ya, aku harap kamu mau mendoakan kami agar semua
berjalan dengan lancar dan sempurna”
Keputusan Reina telah bulat, namun ia juga sedih jika
membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Bagaimana jika Reina lah yang
akan meninggal dunia? Buru-buru ia mengusir fikiran buruk itu setelah ia
melihat papan mading bertuliskan apa yang pernah Ray ucapkan dahulu untuknya.
Proses operasi telah berlangsung selama 3 jam selaras
dengan doa Reina. Dan Ezha juga telah siuman dari komanya yang berkepanjangan
selama 20 jam tersebut. Sungguh, Reina sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha
Berkehendak.
Ketika Ezha membuka matanya perlahan, Ia tertegun
mendapati dirinya tengah berada di ranjang putih itu. Merasa aneh dengan
keberadaannya, ia pun melempar pandangan ke samping ranjangnya dan didapatilah
seorang wanita tengah tidur menelungkup beralaskan satu tangan dan satu
tangannya lagi tengah menggenggam erat jemari Ezha. Ya, dia Reina..
Ezha berusaha
bangkit dari tidurnya karena pegal di sekujur tubuhnya mulai terasa, namun ia
menyerah karena nyeri di bagian dalam tubuhnya malah bermunculan. Dan
terjagalah akhirnya Reina dari tidurnya.
“Heyy kamu sudah bangun, Zha?”
“Yang kamu lihat sendiri bagaimana?”
“Ya, kamu sudah membaik :')”
“Rei.. memangnya aku kenapa bisa sampe di rumah sakit
begini? Dan kamu? Bukannya sedang di Perancis?” tanyanya bingung setengah lupa
ingatan
“Kata Felix kamu kecelakaan biasa kok. Aku kangen aja
sama kamu :')”
ucap Reina sedikit dusta karena takut Ezha bertambah panik.
“ooh.. tapi, Rei.. muka aku kok diperban? Pasti kulit
di mukaku terdapat banyak jahitan? L dan lantas, kamu
pasti malu kan memiliki aku yang sekarang?”
“kata siapa? Enggak, Zha.. aku tetap mencintai kamu.
Bagaimana pun itu perubahan keadaan fisik kamu. Aku selalu mencintai……” potong Reina
sembari meletakkan telapak tangan di dada Ezha. “hatimu..”
Suasana haru memenuhi seisi ruang rawat tersebut.
Tentang donor ginjal dan siapa pendonornya, Reina akan menutupinya sampai pada
saat waktu yang tepat untuk memberitahunya kepada Ezha. Separuh Reina ternyata
bukanlah untuk Ray seorang, namun kini kepada Ezha lah separuh Reina
dipersembahkan.
*****


0 komentar :
Posting Komentar