Hikmah Musibah

Senin, 14 April 2014

Hikmah Musibah



       Perkenalkan namaku Mayla Felisha. Dahulu aku tinggal di pulau Sumatera hampir di bagian ujung, daerah Nanggroe Aceh Darussalam, daerah pesisir yang begitu di agung-agungkan oleh sebagian besar umat Islam di Indonesia bahkan mancanegara, karena daerah tersebut sangat kaya akan peradaban Islamnya dan sering dijuluki sebagai serambi Mekkah. Akan tetapi, walaupun daerah tersebut mobilitas penduduknya mayoritas menganut agama Islam, mampu diporak-porandakan oleh suatu fenomena alam yang amat dahsyat. Banyak manusia tak berdosa bergelimpangan tak berdaya, rumah hancur merata dengan tanah, dan ekosistem perairan yang turut rusak bersamanya. Semua itu kualami sekitar 3 tahun yang lalu, saat usiaku masih belum begitu memahami apa artinya kehilangan.

                                           ***
     Di pagi hari itu, kebetulan terik matahari tidak begitu semangat untuk memancar, langit yang sebegitu megah diselimuti oleh awan yang baru kali itu aku lihat berbeda tak seperti yang kulihat biasanya, gerakan pohon kelapa yang mendayu-dayu tak kumengerti, angin kencang yang berkali-kali menghempas pipi ku, dan aku sendiri yang tengah asyik melamun menatap kosong hamparan laut yang berada tepat di depan rumahku.
     Lama-kelamaan lamunanku terbuyarkan oleh suara gemuruh dari arah lautan. Penampakkan aneh membuat kepanikkan ini semakin menjadi. Kulihat air laut yang secara mendadak menyurut dari permukaan menyuruh langkahku untuk bergegas memberi tahunya kepada ibuku. Namun terlambat, ombak besar yang kini telah ada di depan mataku tanpa ampun menyeret seisi rumah dan membawanya entah kemana.
     Aku berharap itu semua hanya mimpi burukku. Iya, hanya mimpi dimana orang-orang terdekatku mengucapkan selamat tinggal padaku. Aku lemas, aku takut, aku sedih, itu yang kurasa saat itu. Saat aku membuka mata, ternyata aku sedang tidak bermimpi. Kenyataan yang benar-benar tidak aku harapkan, dan aku baru terbangun dari pingsanku. Betapa memprihatinkan, saat itu aku seperti orang kebingungan menyaksikan kejadian mengerikan itu. Banyak orang terkapar dimana-mana, bahkan mereka semua terbujur kaku dengan balutan luka di sekujur tubuhnya. Kudengar dari segala penjuru hiruk pikuk memanggil-manggil nama seseorang atau meminta pertolongan. Aku tak mengerti harus mencari siapa saat itu, kemudian terperanjatlah aku ketika mendapati jasad ibuku yang tergeletak tak jauh dari pijakanku sekarang sedang memanggil namaku lemah. Aku pun segera melompat ke dalam pelukannya. Sempat kudengar ucapan terakhir ibu sebelum benar-benar pergi, ibu mengatakan bahwa aku akan menjadi gadis yang kuat dan hebat di suatu hari nanti. Dan benar saja, aku tidak mengerti apa maksud dari semua perkataan ibu itu.
        Sepi. Kehilangan sosok-sosok yang aku sayang yang membuat sepi ini semakin menjadi. Tanpa tahu arah yang pasti, ku berjalan seorang diri menapaki puing-puing tanpa alas kaki. Begitulah kondisi ku saat itu, sampai tak sadar bahwa aku baru saja menabrak seseorang. Ia seorang ibu paruh baya. Bukan karena mataku tertiup angin atau terkena debu, tiba-tiba saja mataku terasa perih karena menahan tangis kerinduan terhadap ibu. Aku sudah tidak kuat lagi menahannya, maka kutumpahkan semua keluh kesahku pada seseorang yang kutabrak tadi. Aku selalu menyebut nama ibu karena memang aku hanya tinggal dengannya, sejak lahir pun aku tidak pernah tahu siapa ayahku, karena ia lebih dahulu meninggalkan aku dan ibu tanpa alasan.
       Usiaku masih 6 tahun, dan aku sudah kehilangan kedua orang tua. Wanita baik hati tadi mengizinkanku untuk tinggal di panti nya bersama anak-anak lainnya yang nampaknya juga sebaya dan senasib denganku. Tak sampai 1 tahun aku tinggal disana, aku langsung diadopsi oleh seorang pasangan muda yang dengar-dengar mereka tinggal di Jakarta. Sekilas aku tersenyum mendengar pernyataan itu, bahwa dalam benakku, di Jakarta aku akan bisa menggapai angan dan cita-citaku dengan mudah. Ditambah lagi aku akan merasa senang bahwa aku pun akan memiliki kedua orang tua yang lengkap kembali walaupun rasanya tetap saja berbeda tidak sehangat kasih dan pelukan ibu kandungku.

                                               ***
         Sekarang, aku tinggal di Kota Jakarta, daerah dataran rendah yang berbatasan langsung dengan laut Jawa. Kota yang dahulu sering kuidam-idamkan untuk bisa mengunjunginya karena banyak keindahan dan menjadi destinasi nomor 1 di Indonesia, ternyata sedikit melenceng antara ekspektasi dan realita yang aku hadapi sekarang. Kota ini nyaris gersang karena daerah hijaunya sebagian besar tertutup oleh pemukiman sehingga tumbuhan saja dapat terhitung oleh jari, bahkan banyak polusi yang merajalela dimana-mana.
       Orang tua ku yang kini kukira mampu membiayaiku sampai aku lulus sekolah dasar, namun ternyata tidak. Maka dari itu, aku tidak seperti anak kecil lain yang sudah memiliki bekal pendidikan yang utuh. Dan itulah sebabnya hari-hariku hanya kuhabiskan dengan bermain sesuka hati. Apalagi di saat musim hujan seperti ini, aku paling hobi keluyuran untuk hujan-hujanan.
      Tumben-tumbenan, hujan di sore ini disertai dengan petir yang saling beradu sambar. Karena aku takut petir, aku pun berlari kecil untuk pulang ke rumah. Namun sebelumnya, kulirik tumpukkan sampah yang menjadi pusat perhatianku menyumbat saluran itu, kurasa air yang ingin masuk kedalam saluran jadi terhenti dan itulah sebabnya banyak air yang tergenang di jalanan. Karena bingung, aku harus melakukan apa, akupun mengabaikannya dan benar-benar pulang ke rumah untuk beribadah dan lanjut untuk makan sore.
        Fokusku terhadap makanan yang sedang aku makan menjadi terhenti karena tiba-tiba terdengar suara keras seperti bom. Benar saja sesuatu yang buruk sedang terjadi. Tanggul sungai samping rumahku runtuh akibat tekanan air sungai yang deras akibat hujan yang tiada henti selama 2 jam terakhir itu dan lantas air keruh kecokelatan itu menyerbu rumahku dan tanpa segan mendorong pintu utama. Buru-buru kuhabiskan makanku dan langsung berlari ke arah gudang untuk mencari sesuatu guna menyelamatkan diri. Ya, perahu karet. Mungkin dengan ini aku bisa selamat mengarungi arus banjir yang semakin lama air mencapai ketinggian 2 meter.
       Aku tak mau kejadian ini serupa dengan tsunami pada 3 tahun silam yang menelan banyak korban karena kurangnya tim penolong. Maka dengan percaya dirinya kugerakkan perahu ini untuk melaju, dan kubawalah mereka yang membutuhkan pertolongan ke tempat pengungsian. Usahaku yang tak seberapa ini rupanya dihargai oleh cukup banyak pengungsi, dan aku tentu dengan senang hati melakoninya. Bolak-balik ku mencari korban bencana yang memerlukan bantuan, dan terkadang aku melakukannya dengan susah payah agar mendapat keseimbangan perahuku karena tubuhku yang memang terlampau kecil tak sebanding dengan berat mereka. Bahkan ada seseorang yang berkali-kali mengucap terima kasih banyak kepadaku karena aku hadir untuk menolong ibunya yang sedang sakit keras.
       Kedua orangtua baru ku merasa bangga atas perbuatanku, yang walaupun aku tidak disekolahkan secara tuntas, namun aku memiliki pengetahuan dan budi pekerti yang tak terduga. Dari situ lah aku mulai dikenal atas perjuanganku yang tak seberapa, dan bahkan ada seseorang  yang berbaik hati membalas jasaku dengan memberikan sesuatu yang berharga buatku, bahwa aku akan lanjut disekolahkan. Sungguh, ini merupakan wujud nyata nikmat dari-Nya kepadaku dan akan selalu aku syukuri..

                                         *****

0 komentar :

Posting Komentar