2015

Minggu, 20 Desember 2015

Tulang Punggung Keluarga



 
Hai namaku Luciana Pramesti, keluargaku senang memanggilku Lucy. Aku terlahir di keluarga yang sederhana, memiliki kedua orang tua dan tiga saudara perempuan. Sekarang aku duduk di bangku sekolah dasar. Ibarat sebuah barang rongsokkan aku disana, malas belajar sudah pasti, putus asa pun tidak diragukan lagi, tidak seperti teman-temanku yang lain yang hidupnya bahagia dan serba mewah, hidupku tampak terbalik 180⁰. Ditambah melihat ulah teman-teman satu kelas ku yang tiada henti mengolokku karena kondisi fisikku yang memang jauh dari kata sempurna melengkapi penderitaanku. Hal itulah yang merubahku menjadi pribadi yang tertutup dan enggan bergaul, aku bahkan tak cukup percaya diri untuk bisa tampil di muka umum.
   Aku ingin menjadi orang sukses, aku ingin membuktikan pada mereka bahwa aku tidak sebodoh yang mereka kira. Selalu itu ucapanku di setiap doa yang kupanjatkan. Namun tetap saja, rasa pesimisku selalu dominan dibanding rasa optimisku. Masa kecilku yang suram itu begitu saja terbuang tanpa makna dan lewat tanpa arti, aku selalu melupakan nasehat orangtua ku untuk jangan terlalu merendahkan diri.
    Entah apa yang membuat diriku tersadar, perlahan-lahan aku mulai membenahi diri sedikit demi sedikit sampai tibalah keajaiban itu datang menghampiri. Ketika aku mulai beranjak remaja, kemampuan yang kumiliki mulai terlihat. Walau tidak sehebat anak-anak yang lain mendapat prestasi di sana dan di sini, ketika aku mampu membuat puisi dengan baik, orang tua ku sudah bangga bukan main. Ya, semua itu berkat Ibuku yang sejak beberapa bulan lalu selalu mencekokiku dengan sebuah majalah bertema pendidikan, hal itu membuat diriku berubah ke arah yang positif. Semenjak itu pula, aku menjadi suka membaca. Meskipun cacat mata (juling) ini terkadang menjadi kendalaku saat membaca tapi tak masalah, minat membacaku tetap tak akan tersurutkan. Kedua orang tua ku selalu mensupportku baik secara langsung maupun tidak langsung, mereka selalu meyakini aku bahwa aku mampu tumbuh menjadi seseorang yang hebat. Awalnya aku tidak percaya, tapi kalau aku selalu ragu akan kehebatan yang dimiliki, sampai kapanpun aku takkan pernah bisa meraih mimpiku. Benar saja kepercayaan diriku yang dulu hilang kini kembali ada, aku tidak peduli dengan kondisi fisikku seperti apa di mata orang. Namun teringat bahwa sudah sejauh ini orangtuaku mendukungku untuk terus melangkah, akupun memberanikan diri untuk selalu berinteraksi dengan orang lain tanpa merasa malu. Canggung memang, tapi kalau aku tidak keluar dari zona nyaman ku selama ini, aku akan terus tenggelam sebagai pecundang.
   Aku tau berproses tidak seinstan itu, masih banyak hal lain yang perlu kuperjuangkan untuk bisa meraih keinginan membuat bangga orang tuaku. Aku terus belajar dan mencari pengalaman melalui orang lain, ternyata banyak segudang ilmu yang ku dapat ketika berinteraksi dengan orang lain terlepas dari mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Sekarang aku tak lagi merasa kesepian, karena aku telah menemukan banyak teman dan orang baru. Selepas aku dari sekolah menengah atas, aku melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, aku sangat mensyukuri nikmat Allah bahwa ternyata aku mendapat penghargaan menjadi salah satu mahasiswa berprestasi dengan meraih IPK tertinggi bersaing dengan sekian banyaknya mahasiswa di Fakultasku.
   Seiring aku bertambah dewasa, usia kedua orangtuaku yang amat ku cintai semakin berkurang. Ayahku telah mendapatkan pensiun, ditambah kondisi kesehatannya yang semakin menurun. Pekerjaan ibuku yang hanya seorang penjahit rumahan terkadang membuatku berfikir keras bagaimana jika aku tak sanggup untuk membiayai kebutuhan keluarga dan membayar sekolah ketiga adikku. Lantas, tak punya pilihan lain aku sebagai anak sulung berkewajiban untuk meringankan beban kedua orangtua ku dengan caraku sendiri.
   Tidak lama dari masa-masa sulit itu ayahku justru manderita penyakit yang sulit disembuhkan, dan hal yang paling aku takuti justru harus kuhadapi juga saat itu. Ya, ayahku harus mengakhiri hayatnya dan sekarang aku menjadi anak yatim. Sangat terpukul menyadari hal tersebut bahwa aku belum sempat membahagiakannya dengan memberikan yang terbaik untuknya, namun ucapan terakhir yang kuingat untuk terakhir kalinya adalah bahwa ayah akan bahagia jika aku bahagia. Oleh sebab itu tak banyak membuang waktu untuk berlarut dalam kesedihan, aku bertekad untuk semakin giat dalam mencari pekerjaan, sehingga berkat kerja kerasku, aku menjadi dipercaya banyak orang dan sekarang aku mendapat berbagai tawaran untuk menjadi guru Bahasa Inggris di negeri orang. Dalam suatu kesempatan pula, aku mampu membiayai ibuku beribadah ke tanah suci.
   "The world will always spin. If you just keep silent, the world is reluctant to help you to jump further pursuing your dreams"

                                            *****

Generasi Muda Takkan Melupakan Sejarah




Kita semua sadar mengenai apa itu sejarah, namun dalam faktanya kini sejarah mulai dilupakan bahkan sering diabaikan keberadaannya. Tidak sedikit di antara kita menganggap bahwa sejarah merupakan suatu hal yang tidak penting untuk diingat kembali karena terkadang dapat menimbulkan trauma yang berarti dan sebagian orang lainnya bahkan juga menganggap bahwa sejarah merupakan sesuatu yang tidak lagi up-to-date atau ketinggalan jaman. Hal tersebut sungguh berbeda ketika kita menjumpai sejarah bangsa Eropa dan Amerika yang justru sejarahnya sangat dihargai karena bagi mereka sejarah dapat menyerap nilai-nilai positif yang ada dalam karya sejarah.
Sejarah dapat diartikan sebagai sebuah kejadian atau peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Dalam konteks ini, sejarah yang akan dikupas lebih dalam lagi ialah mengenai sejarah kebangsaan Indonesia. Sejarah diibaratkan seperti sebuah kacamata dimana seseorang yang sebelumnya tidak dapat melihat dengan jelas, setelah mengenakan kacamatanya ia pun akan dapat melihat dengan normal dan lantas dapat beraktivitas sesuai keinginan dan harapannya tanpa hambatan. Sama hal nya dengan sejarah, seseorang yang lupa mempelajari sejarah dalam hidupnya dapat dipastikan ia tidak akan bisa merancang masa depan hidupnya, bahkan bangsanya tidak dapat berjalan dengan semestinya. Sejarah benar-benar merupakan kekuatan dahsyat dalam diri manusia atau sebuah negara yang hanya karena dipelajari, manusia menjadi tahu kemana arah tujuan hidupnya dan melalui sejarah juga seseorang terkadang akan berjuang sehidup semati untuk menumpas kegagalan yang ia alami sebelumnya untuk menjadi sebuah keberhasilan di masa kini ataupun nanti.
Berbicara tentang sejarah mengingatkanku kepada semboyan yang pernah dilantangkan dengan keras oleh Ir. Soekarno pada pidato terakhirnya yang disampaikan pada saat hari kemerdekaan tahun 1966. Beliau mengatakan “Jas Merah”. “Jas Merah” bukanlah sebuah benda atau bahkan sebuah pakaian berwarna merah, melainkan sebuah akronim dari “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Ungkapan paling bermakna yang terlahir untuk ditujukan kepada mereka yang suka melupakan sejarah hidupnya, lupa akan orang-orang yang pernah berjasa dalam sejarah hidupnya. “Jas Merah” bukan hanya sekedar asal ucap atau sekedar omongan belaka, namun amat sangat diperuntukkan kepada generasi muda menjadikan semboyan tersebut untuk memacu semangat juang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Kita semua bahkan tahu, Indonesia belum seutuhnya merdeka atas jajahan, karena kekayaan Indonesia sampai sekarang pun masih menjadi incaran negara lain. Generasi muda yang lebih cerdas seiring kemajuan teknologi mengingatkan Ir. Soekarno akan semboyan “Jas Merah”. Bahkan kecerdasan tidak cukup jika tidak diimbangi oleh pertahanan jati diri bangsa. Generasi muda yang katanya mudah terombang-ambing tersebut pun perlu diberikan asupan sejarah agar mampu mengetahui dan mengerti jerih payah para pendahulu dalam membangun negeri, dengan begitu generasi muda akan bersemangat meningkatkan jiwa patriotisme dan nasionalisme sehingga segala bentuk perpecahan dapat diatasi. Oleh sebabnya kita pun tidak akan merasa asing lagi ketika mendengar semboyan tersebut dilantangkan ketika mahasiswa sedang turun ke jalan menyampaikan orasinya.
Petikan kecil dari Ir. Soekarno yang hingga kini membekas di hati pemuda mengingatkan kita semua akan pentingnya sejarah sebagai tonggak mengarungi bahtera hidup ini dan juga sebagai motivator terbaik di kala kita merasa pasrah dan genting. Ada yang mengatakan bahwa “bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai sejarahnya”. Oleh karena itu jangan sekali-kali menganggap remeh sejarah, karena tiap lembaran dan goresan tintanya memberikan kita banyak arti pelajaran hidup serta evaluasi diri kita untuk menjadi lebih  baik. Untuk tahu siapa diri kita dan mengapa kita dilahirkan di Negara ini, janganlah melupakan siapa yang telah mendukung dan mengangkat kita hingga dapat berdiri tegak seperti ini. Jadi, kenakanlah selalu “Jas Merah” mu!