Aneh Saja
Hai blog..
Pernah nggak sih kalian ngerasa sesak di dada tapi bukan
asma?
Pernah nggak sih hati kalian terluka tapi nggak berdarah?
Pernah nggak sih separuh kalian merasa hancur
berkeping-keping tapi bukan fraktur?
Pernah nggak sih mata kalian perih tapi bukan karena
kelilipan?
Pernah nggak sih dada kalian nyeri tapi bukan jantungan?
Ya, gua sering mengalaminya akhir-akhir ini. Siapa bilang anak
kesehatan ga pernah sakit? Justru gua sering sakit yang semacam ini. Memang
nggak ada obatnya, makanya gua sering nggak berdaya setelah ini.
Lagi, lagi, dan lagi. Hal yang serupa terulang lagi. Dengan kesibukan
perkuliahan gua ini, gua cuma butuh seseorang yang mau diajak berbagi cerita.
Dengan segala kelemahan gua ini, gua cuma butuh seseorang yang mau mendengarkan
keluh kesah gua. Dengan segala kerecehan gua ini, gua cuma butuh seseorang yang
mau diajak menggila bersama gua.
Kata orang, “lu cocoknya diajak jadi temen asik poy bukan lebih”,
Kata orang “gua tuh nyaman sama lu, tapi hanya sebagai teman”
Dan banyak “kata orang” lainnya soal teman. What the hell,
man....
Semenjak itu gua benci banget berteman, karena berteman hanya
sekedar menemani dan setelah keperluan itu berakhir, pertemanan juga ikut
berakhir. Dan setelah ia menemukan teman baru yang lebih asik daripadanya, mereka
pun berpaling.
.
Sebenernya maksud tulisan gua bukan mengarah ke pertemanan,
melainkan mengerucut kepada istilah “friend zone”.
Istilah yang sekarang ga pengen gua denger, ga pengen gua pedulikan, ga pengen orang lain merasakan seperti apa yang gua rasakan, dan pastinya sih istilah yang amat sangat ingin gua enyahkan dari dunia ini.
Udah 8 kali gua begini setelah gua disumpahin sama mantan pacar gua tempo lalu. Kata-kata yang nggak seharusnya gua jadiin sugesti, namun selalu terngiang ketika gua sedang menjalin hubungan dengan orang baru, ralat deng, ketika gua sedang berniat menjalin hubungan serius dengan orang baru. Ya, kata-kata yang sangat dalam dan menusuk relung gua. “.... Gua doain nggak ada yang betah sama lu”
Udah 8 kali gua begini setelah gua disumpahin sama mantan pacar gua tempo lalu. Kata-kata yang nggak seharusnya gua jadiin sugesti, namun selalu terngiang ketika gua sedang menjalin hubungan dengan orang baru, ralat deng, ketika gua sedang berniat menjalin hubungan serius dengan orang baru. Ya, kata-kata yang sangat dalam dan menusuk relung gua. “.... Gua doain nggak ada yang betah sama lu”
Awalnya gua nggak menganggap serius omongan angin berlalu
itu, tapi akhir-akhir ini kata-kata itu seakan melekat di otak gua, dan
kejadiannya terbukti sampe 8 kali.
Intinya selalu begitu.
Seperti de javu, namun terjadi pada orang yang berbeda.
Intinya setelah gua yakin dengan orang baru dan berniat
ingin serius ya ujung-ujungnya berakhir begitu saja. Dan akhirnya gua selalu
menutup pintu hati ini rapat-rapat, sulit untuk memberi kepercayaan, sampai
suatu hari ada seseorang yang mengetuk pintu itu perlahan, dan memasuki relung
hati gua yang terdalam tanpa tertindih oleh siapapun selain gua. Maka gua pun
akan menutup pintu itu kembali, namun di dalamnya hanya ada gua dan dia.

