Aneh Saja

Kamis, 22 Maret 2018

Aneh Saja



Hai blog..
Pernah nggak sih kalian ngerasa sesak di dada tapi bukan asma?
Pernah nggak sih hati kalian terluka tapi nggak berdarah?
Pernah nggak sih separuh kalian merasa hancur berkeping-keping tapi bukan fraktur?
Pernah nggak sih mata kalian perih tapi bukan karena kelilipan?
Pernah nggak sih dada kalian nyeri tapi bukan jantungan?

Ya, gua sering mengalaminya akhir-akhir ini. Siapa bilang anak kesehatan ga pernah sakit? Justru gua sering sakit yang semacam ini. Memang nggak ada obatnya, makanya gua sering nggak berdaya setelah ini.

Lagi, lagi, dan lagi. Hal yang serupa terulang lagi. Dengan kesibukan perkuliahan gua ini, gua cuma butuh seseorang yang mau diajak berbagi cerita. Dengan segala kelemahan gua ini, gua cuma butuh seseorang yang mau mendengarkan keluh kesah gua. Dengan segala kerecehan gua ini, gua cuma butuh seseorang yang mau diajak menggila bersama gua.

Kata orang, “lu cocoknya diajak jadi temen asik poy bukan lebih”,
Kata orang “gua tuh nyaman sama lu, tapi hanya sebagai teman”
Dan banyak “kata orang” lainnya soal teman. What the hell, man....

Semenjak itu gua benci banget berteman, karena berteman hanya sekedar menemani dan setelah keperluan itu berakhir, pertemanan juga ikut berakhir. Dan setelah ia menemukan teman baru yang lebih asik daripadanya, mereka pun berpaling.
.
Sebenernya maksud tulisan gua bukan mengarah ke pertemanan, melainkan mengerucut kepada istilah “friend zone”.

Istilah yang sekarang ga pengen gua denger, ga pengen gua pedulikan, ga pengen orang lain merasakan seperti apa yang gua rasakan, dan pastinya sih istilah yang amat sangat ingin gua enyahkan dari dunia ini.

Udah 8 kali gua begini setelah gua disumpahin sama mantan pacar gua tempo lalu. Kata-kata yang nggak seharusnya gua jadiin sugesti, namun selalu terngiang ketika gua sedang menjalin hubungan dengan orang baru, ralat deng, ketika gua sedang berniat menjalin hubungan serius dengan orang baru. Ya, kata-kata yang sangat dalam dan menusuk relung gua. “.... Gua doain nggak ada yang betah sama lu”

Awalnya gua nggak menganggap serius omongan angin berlalu itu, tapi akhir-akhir ini kata-kata itu seakan melekat di otak gua, dan kejadiannya terbukti sampe 8 kali.
Intinya selalu begitu.
Seperti de javu, namun terjadi pada orang yang berbeda.

Intinya setelah gua yakin dengan orang baru dan berniat ingin serius ya ujung-ujungnya berakhir begitu saja. Dan akhirnya gua selalu menutup pintu hati ini rapat-rapat, sulit untuk memberi kepercayaan, sampai suatu hari ada seseorang yang mengetuk pintu itu perlahan, dan memasuki relung hati gua yang terdalam tanpa tertindih oleh siapapun selain gua. Maka gua pun akan menutup pintu itu kembali, namun di dalamnya hanya ada gua dan dia.

0 komentar :

Posting Komentar