Takdir Cinta

Kamis, 12 Januari 2012

Takdir Cinta




Perkenalkan, namaku Fani. Ketika aku duduk di bangku kelas VIII, aku mulai merasakan bagaimana jatuh cinta kepada teman dekatku sendiri, sudah kemunculan rasa tersebut tak ku ketahui, datangnya pun secara tiba-tiba.
Jadi, aku memiliki teman dekat, ia bernama Lee. Lee adalah sesosok lelaki yang unik bagiku. Dia mampu membuatku tersenyum maupun tertawa kapan pun-dimana pun, hanya karena ulahnya yang mengasyikkan. Pada saat itu ternyata ia sudah memiliki seorang pacar. Pacarnya sendiri pun merupakan sahabat karibku yang bernama Tasha.
“Lee.., Lee.., Lee..,” panggilku pada Lee yang terdengar lebih kepada suara bisikan itu.
“Ya, ada apa, Fan?” jawabnya sambil setengah menengok padaku dikarenakan pada saat itu Lee sedang serius menyalin deretan catatan panjang yang terpampang indah di papan tulis depan kelas.
“Heheheh, serius amat mas nyalinnya?” ledekku.
“Hahaha, iya dong, kan biar keliatan rajin gitu..” jawabnya sambil rada mesam-mesem. Manis deeh. :D
“Iya deh percaya aja dah gua. Oiya Lee, lu kan semalem sms gua kalo lu lagi pendekatan sama Tasha. Gimana, udah berhasil belum nih?” tanyaku menyelidik.
“Hmm..” gumam Lee sambil senyum-senyum penuh makna, “Gua udah jadian sama Tasha, Fan semalem. Hehehe” sambungnya sambil tertawa.
“Wah, asyik dah! Traktir dong Lee.., mentahnya aja deh. Hehehe”
“Tuh ambil di tukang sayur banyak. Haha”
“Yeh, maksudnya duitnya aja gitu. Kalo gak mau ngasih juga gak apa-apa kok.” bohongku meskipun aku berharap agar dikasih.
“Hmm.., begitu. Gimana yah? Gua gak tega sih liat muka melas lu, Fan. Nih deh gua kasih khusus buat lu.” Ucapnya serambi mengulurkan tangan dan menyerahkan dua lembar seribuan padaku.
“Waah, Lee baik bangett. Makasih banyak yaa!” teriakku sedikit tertahan karena saking girangnya. 
***
Hari demi hari kulalui masa SMP ku ini dengan ke-enjoyan. Terlebih berkat adanya kehadiran sang Lee yang selalu sukses merubah hari-hariku yang sebelumnya kelam menjadi lebih berwarna. Terkadang, sikap dan perilakunya terhadapku sering membuatku bingung dan bertanya-tanya. Mengapa gerangan begitu??? -.-“
“Plakk!” remasan kertas menyerupai kerikil dengan jumlah lumayan banyak berkali-kali mendarat mulus di mejaku, bahkan sampai di kepalaku.
“Adaww! Siapa nih yang ngelempar kertas sebanyak ini? Iseng banget dah!” gerutuku sambil mengusap-usap puncak kepalaku guna merontokkan remasan kertas kecil itu sampai jatuh.
Tak ada yang mengaku. Namun yang terdengar hanyalah suara cekikikan yang berasal dari sebelah kiri ku. Ya, tepat! Itu suara Lee dan Raga. Tak salah lagi bahwa mereka lah pelakunya. Dengan segera aku punguti semua kertas-kertas itu, dan kemudian bangkit dari kursi ku dan menghampiri mereka berdua.
“Woy, maaf banget nih. Sampah kalian tampaknya salah alamat. Jadi sebaiknya kalian anter dah ni sampah ke habitatnya!” seruku langsung kembali ke kursiku secepat kilat sebelum mereka bertindak.
“Wets, serem ah serem. Takut ah sama marahnya! Hehehe.” sahut Lee.
Dan mau tak mau pun aku tersenyum atas perkataan Lee barusan, dan perasaan kesalku tadi terhadap Lee dan Raga terasa hilang begitu saja.
Lumayan banyak jumlahnya kejadian yang kualami semenjak mengenal Lee. Walau, kejadian tersebut hanya berupa kejahilan yang Lee buat. Namun hasilnya selalu aku yang luluh padanya. Tersenyum, bahkan sampai-sampai bersemu merah di pipi.
Saat aku piket, kebetulan aku sedang menyapu di bawah meja Lee.
“Tolong angkat kaki lu!” perintah ku.
“Enggak ah.. :p”
“Oh, yaudah kalo gak mau, gak gua sapuin!”
“Yaelah, Fan. Jangan marah dong. Nih gua angkat. Yang bersih ya.. Hahaha.” ledek Lee
Namun ketika aku mulai menyapui lantai tersebut, kaki Lee tiba-tiba sudah berada di atas sapu tersebut. Lee menginjaknya. Sehingga itu menghambatku untuk menyapu.
“Ih, Lee mah rese amat. Jangan ganggu gua lagi nyapu. Entar keburu bel tau! Semburku
“Tuh kan, baru diginiin udah marah lagi? Ckckck”
“Biarin, suka-suka gua!” timpalku galak, namun di samping itu pipiku jelas sekali menampakkan semburat warna merah kemudaan.
***
Seminggu sebelum hari ulang tahunku tiba, ada kejadian yang menganehkan bagiku. Ketika bel pulang sekolah berbunyi, seperti biasa aku dan Putri keluar kelas belakangan dikarenakan belum kelar beberes tas nya. Seusai kelar, dan kebetulan saat itu Lee masih berkutat dengan tugas tata busananya yang hampir tuntas, aku pun menghampirinya untuk meledek.
“Woy woy woy! Hari gini belum selesai?! Hehehe piss!”
“Ssst, diem ah, Fan! Gua lagi gak bisa diganggu tau! Mendingan lu pulang aja sana!”
“Oh gitu nih sekarang, oke fine!” ambekku tak rela karena diusir Lee.
“Hehehe, maaf deh maaf. Eh, Fan, nih buat lu.” Kata Lee sambil menyodorkan lipatan kertas label yang ketara bahwa isinya berwarna merah.
“Ayo Put, kita puulang” ajakku pada Putri sambil berlalu menuju luar kelas dengan melenggang santai membawa kertas pemberian Lee tadi yang belum sempat kulihat.
Sesampainya di koridor kelas, temanku, Nisa menghampiriku. Dan ia langsung memberondongku dengan pertanyaan juga pujian.
“Hei Fani! Coba deh gua liat itu!”
“Apaan Nis? Gak ada apa-apa ah.”
“ih, itu yang lu pegang, Faniii!” Nisa pun merebutnya dan membuka lipatan itu.”Ini lu yang buat? Keren Fan! Cieee, mau lu kasih ke pacar lu ya?”
“Ha? Mmm, enggak kok enggak. Ini pengen gua buang niatnya.”
Setelah ku ngobrol sebentar dengan Nisa, aku pun melanjutkan untuk segara pulang. Tak lupa aku langsung menyelipkan lipatan kertas tadi ke dalam saku bajuku.
Sesampainya di rumah, aku segera masuk ke kamar dan kemudian merebahkan tubuh lelahku ke ranjang. Hari yang melelahkan, batinku dalam hati. Sambil berbaring, tanpa sadar pandanganku kosong, hanya fikiranku saja yang melayang-layang kian kemari, dan muncullah wajah Lee di dalamnya. Aku terkejut, dan teringat akan kertas tadi. Aku pun bangkit duduk mengambil kertas dalam saku bajuku. Baru sadar, ternyata tergambar bentuk hati dalam kertas itu.
“Betul kata Nisa, keren..” pujiku sambil tersenyum-senyum sendiri.
Maksud Lee apa? Tanda Tanya besar menguasai seluruh otakku. Tanpa sadar aku langsung mendekap kertas itu. Aku deg-degan. Apakah itu yang dinamakan aku jatuh cinta? Entahlah..
***
Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu. Tepatnya, sekarang adalah hari ulang tahunku yang ke-14. Suasana seluruh sudut dalam kelas pada saat itu begitu hening. Aku sempat sedih, begitu banyak manusia di kelas ini, tapi tak ada seorang pun yang mengetahui bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku.
Dan akhirnya, teman sebangku ku lah, Putri, yang ingat. Ia mengucapkan secercah do’a dan ucapan selamat kepadaku.
“Faniii, lu ultah kan sekarang? Selamat yaa, semoga panjang umur, sehat selalu, dan apa yang lu harapkan bisa terwujud.” Ucapnya sumringah.
“hehehe, iya Putri, makasih banyak..”
“Wets, Fani ultah?” sambut Lee tiba-tiba.
“Iya Lee, masa lu enggak tau sih?” serobot Putri sebelum aku sempat menjawab pertanyaan Lee.
“Happy birthday ya, Fan! Wish you all the best!” ucapnya, sembari mengulurkan tangannya. Dan aku pun membalas uluran tersebut.
“Iya makasih, mana nih kado buat gua? Hehehe. Bercanda doang deng! :D”
“mmm..,” gumam Lee. Lee pun mengorek-ngorek isi laci mejanya dan ia ternyata menemukan sebuah tempat pensil berwarna pink. “Nih, Fan. Tempat pensil buat lu. hehe”
Entah kenapa, dengan senang hati aku menerima tempat pensil itu dan langsung menyimpannya ke dalam tas ku setelah melihat-lihat kualitas tempat pensil itu. Dinamain segala rupanya tempat pensil itu sama Lee. Cowok kurang kerjaan. -.-“
“Omong-omong ini tempat pensil punya siapa, Lee?”
“Hohoho, gak tau gua. Nemu di laci. Hehe. Suka gak?”
“Suka kok suka.” Jawabku mantap.
“Oiya, nih ada lagi.” kali ini dengan menyerahkan sebuah penggaris yang sudah patah berwarna oren.
“Yaampun Lee, gak usah repot-repot juga kali, ini penggaris udah patah tau.” Ucapku malas.
“Hehehe, Gak apa-apa lha buat kenang-kenangan aja, ya gak? Hehe.”
***
   Sejak kertas bergambar hati muncul, sejak hari ulang tahunku itu, dan setelah ku dengar-dengar bahwa ternyata Lee telah putus hubungan dengan Tasha 2 bulan yang lalu, aku mulai bercerita pada Putri tentang perasaanku yang ternyata hatiku telah terpikat oleh Lee. Aku mengagumi Lee. Bahkan lebih dari sekedar mengagunmi, aku menyukai Lee.
“Beneran, Fan? Gua gak nyangka lho.. Soalnya lu nya aja jutek banget ke Lee. Oh ternyata, lu bisa juga terpikat oleh Lee. Haha.”
“Iya nih, Put. Gua juga gak tau apa penyebabnya, tiba-tiba gua menyukai Lee begini.
Hmm, jangan bilang-bilang ya, gua tuh kayaknya mulai merasanya pas kemunculan kertas bergambar hati, dan pas hari ulang tahun gua kemaren. Gua merasa ada yang berbeda dari Lee.”
“Wah, iya Fan. Gua juga ngerasa begitu. Panteslah lu suka, orang dia tiba-tiba kayak perhatian gimanaaa gitu kan ke lu?”
“Ah gak juga tuh.”
“Halaaah, gak usah ngelak deh Fan.”
***
Aku hanya menceritakan perasaan itu pada Putri, tidak pada yang lain. Terutama pada Tasha. Karena aku bisa meyakinkan bahwa Tasha masih menyayangi Lee, bisa-bisa Tasha malah jadi memusuhiku. Perlahan-lahan aku tak tahan untuk menyimpan rahasia itu berdua, karena semakin lama perhatian Lee padaku semakin menjadi. Maka ku menceritakan ini semua pada Nia. Nia paham betul posisiku bisa hancur kalau tanpa sengaja Tasha tahu soal ini. Sebelumnya, Nia juga pernah mengatakan padaku, bahwa Tasha sudah mulai menampakkan benih-benih kecurigaan terhadapku mengenai perasaanku pada Lee.
Dan ternyata benar. Sebulan kemudian sikap Tasha berubah drastis kepadaku. Ia jadi sering mengacuhkanku, menganggapku tak ada. Fikiran dan perasaanku terus menerus dipenuhi dengan perasaan bersalah. Aku beranggapan bahwa hanya diriku sahabat Tasha yang paling jahat dan tega. Aku menyesal telah menyukai seseorang yang disukai oleh sahabatku juga. Aku takut, ini akan berujung kepada permusuhan. Dan hanya karena inilah hubunganku dengan Tasha jadi terputus.
“Putri, Tasha udah tau kalo gua beneran suka sama Lee. Dia kayaknya sekarang benci deh sama gua. Putrii, gua mesti gimana? L
“Yah Fan, maaf banget ya, gua juga gak ngerti dengan masalah beginian, apalagi cara penyelesaiannya. Tapi gua meyakinkan, lu dan Tasha pasti akan baikan lagi, dan bisa saling mengerti kembali kayak dulu. Lu harus terus meminta maaf sama dia. Ya, kalau boleh, maaf banget nih sebelumnya, satu-satunya cara terbaik yang mesti lu lakuin meskipun sulit, lu mesti lupain Lee aja, gimana?”
“gimana mau minta maaf? Gua aja setiap ngomong ama dia, dia selalu mengabaikan gua, bahkan dia beralasan dan ujung-ujungnya dia menjauhi gua. Gua tau gua salah banget. Oh, oke deh Insya Allah gua coba buat lupain Lee.”
***
Kenaikan kelas pun tiba, aku belum juga baikan dengan Tasha. Beban berupa masalah belum juga terpecahkan, serasa aku memiliki bertumpuk-tumpuk hutang yang belum terbayar. Begitu berat cobaan yang mesti ku topang. Aku mulai putus asa, namun di samping itu Putri selalu menyemangatiku agar aku tak mudah menyerah.
Akhirnya, datanglah sang penyelamat. Ia bernama Felly. Tak hanya Felly, beberapa sahabatku juga ikut turun tangan atas masalah ini. Mungkin tanpa mereka aku dan Tasha takkan pernah akur, padahal masa SMP tinggal beberapa bulan lagi. Dan mungkin aku akan ada di dalam penderitaan. Karena diantara aku dan Tasha, kurasa tak ada yang berani angkat bicara duluan.
Aku bersama Tasha di sidang dengan dimuntahkannya berondongan pertanyaan dari Felly. Dengan lancar aku menceritakan apa yang terjadi dengan Tasha. Tak lama pun aku dan Tasha pun bisa berbaikan. Hatiku begitu lega, masalah telah luruh terbawa bersama ucapan jujurku dan penyesalanku itu. Kesimpulannya yaitu, segala masalah yang awalnya terasa begitu besar akan terasa kecil bila diselesaikan dengan hati yang bersih dan fikiran dingin. Dan tak selalu bersahabat itu hanya bahagia yang dirasa, namun perasaan kesal pun juga bisa muncul. Bahkan, ada kalanya sahabat tersebut jadi saling bermusuhan.
***
Semenjak kejadian itu, aku lebih sering terbuka terhadap Tasha, dan dia pun akan menanggapi dengan penuh suka cita. Bahkan kami terbilang kompak. Sebulan setelah terjadinya penyelesaian konflik, kami sama-sama bisa melupakan Lee. Dan kami bertekad untuk mencari penggantinya. Dalam proses pencarian tersebut, kami berdua langsung menemukan target yang tepat, dan itu terjadi pada saat yang bersamaan. Hanya saja yang membedakan antara kami berdua, Tasha lebih unggul dalam meraih hati lelaki. Berlawanan dengan aku. Aku tak punya tekad untuk melakoni usaha pendekatan tersebut. Entah kenapa niatku selalu ciut ketika baru akan memulainya. Yah, itu mungkin karena aku kapok, aku takut akan timbul kembali rasa sakit hati yang dulu hinggap di hatiku. Dan kemungkinan besar lainnya, karena memang inilah takdir cintaku di masa SMP.
*****

0 komentar :

Posting Komentar