Nomor Absen 24
Nomor absenku 24. Aku sangat menyukainya.
Tak akan kubiarkan kenangan itu menghilang begitu saja dari pikiranku karena dari situlah
kisah bahagiaku dimulai.
Saat
aku masih duduk di bangku kelas VIII, aku mendapat nomor urut 24 dalam buku absensi. Awalnya kukira tak akan seindah nomor absen 20-ku di kelas sebelumnya. Ternyata
memiliki absen 24 lebih dari sekedar indah.
Sistem
sekolah yang menerapkan bahwa saat ujian berlangsung kelas VIII akan digabung dengan
kelas VII memberikan warna tersendiri bagiku. Aku senang karena saat ujian tidak duduk sendiri. Namun aku juga sedikit sedih karena rasanya ada yang kurang jika saat ujian nanti aku tidak
akan duduk sebangku lagi dengan sahabatku, sekaligus teman sebangkuku. Wiwi namanya. Walaupun dia agak lambat, tapi aku senang
bila berada dekat dengannya. Dia teman terdekatku sejak kelas VII.
***
Hari
itu pun tiba. Guru piket membagikan kartu peserta ujian kepada seluruh murid
penghuni kelas VIII-5. Aku agak sedih ketika namaku dipanggil. Aku membayangkan
perkiraan terburuk yang akan terjadi. Akankah tempat dudukku dengan Wiwi akan
berjauhan? Itulah yang terbersit di otakku. Setelah aku menyamakan kartuku dengan Wiwi untungnya kami masih satu ruangan yang sama, ruang 10.
***
Ujian Tengah Semester I pun datang dan baru akan dimulai pukul 12.30
WIB, aku sengaja datang lebih awal bermaksud untuk membahas soal UTS tahun
kemarin bersama teman-temanku untuk memantapkan belajarku. Aku membahasnya di tempat Wiwi berada, di bangku
paling belakang. Sedangkan aku duduk di bangku urutan kedua dari depan.
Sekilas
kulihat seseorang yang akan duduk bersamaku selama ujian nanti. Saat dia datang, tempat duduk ku
langsung ramai dipenuhi banyak orang, ya mungkin saja mereka ingin mengobrol dengannya.
“Yah…
cowok! Gak seru nih…”
“Kenapa
Mi? Samping lu ya? Hahaaa kasiiiiaaan…”
“Hah?
Kenapa Wi?” saat itu aku baru sadar kalau ternyata aku sudah menyuarakan kata hatiku. Menyebalkan.
***
Teeett… teeett… bel masuk berbunyi.
Aku segera bangkit dari tempat duduk Wia dan berjalan ke arah tempat dudukku.
Sebelum pengawas datang, aku mulai mengobrol dengan teman sebangkuku.
“Hai, hari ini pelajaran apa?”
“PLKJ kak”
“Satu
lagi apa?”
“Oh, sama TIK kak. Emang kenapa kak? Kakak mau bantuin aku?” Katanya sambil tersenyum sedikit melihatkan deretan giginya yang rapi
“Ooh gapapa kok yakali bantuin. Entar diomelin yang ada hehe”
Obrolan
kami pun berlanjut. Aku mulai nyaman berbicara dengannya. Dia asyik dan tidak canggung denganku.
Kegiatan
hari itu pun selesai. Setelah selesai berdo’a, Mitha teman sekelas sekaligus
seruangan denganku tiba-tiba memberondongku.
“Cie…
Ismiii…kenalin ke kita dong” katanya sambil mengedip-ngedipkan matanya.
“Kenapa sih mit? Siapa juga yang mau gue kenalin?”
tampangku saat itu agak bloon karena kebingungan.
“Muka kalian berdua mirip tauuu… Cocok!” katanya dengan nada yang agak meledek.
Saat
itu aku baru menyadari kalau teman sebangkuku juga sedang menatap Mitha.
Setelah Mitha selesai bicara, teman sebangkuku balik badan dan menatapku yang
sedang terbengong-bengong. Saat aku sadar ada yang menatapku, aku jadi balik
menatapnya. Aku baru sadar kalau teman sebangkuku sangat menggemaskan! Aku
ingin sekali mencubit pipinya. Namun aku sadar kalau sudah waktunya untuk
pulang.
***
Di
rumah, aku malah jadi kepikiran kata-kata Mitha di sekolah tadi. Aku menatap
bayanganku di depan cermin, aku tidak percaya karena menurutku mukaku sama sekali tidak mirip dengan teman sebangkuku. Namun entah kenapa aku merasa senang.
Aku bingung dengan diriku sendiri. Kenapa aku senang hanya karena kata-kata
Mitha tadi? Padahal semua itu Mitha lakukan hanya untuk meledekku. Ya sudahlah, aku akan menganggap
kata-kata Mitha tadi tak pernah kedungar. Mungkin besok aku akan lupa. Mending aku belajar saja untuk ujian besok.
***
Esok harinya entah kenapa aku menduga
semua orang sudah mendengar kata-kata Mitha kemarin, karena mendadak semua orang yang bertemu
denganku jadi meledekku. Bahkan ada saja yang mengataiku dengan panggilan Ryo. Benar saja, Ryo ternyata teman sebangkuku saat ujian.
Aku
lelah mendengar perkataan-perkataan mereka tentangku. Namun setiap kali aku
mengelak, ejekan mereka semakin menjadi. Aku hanya bisa pasrah atas semua
yang terjadi. Setelah bel pulang sekolah nanti, mungkin penderitaanku akan
berakhir.
***
Hari-hari berikutnya pun sama seperti sebelumnya. Aku sudah lelah untuk peduli
terhadap perkataan mereka tentangku. Namun semakin ku menyingkirkan
perkataan mereka, semakin hatiku tidak rela melepasnya. Aku ini kenapa? Apa aku menyukainya? Aku ragu. Kenapa semudah itu aku menyukainya? Bayangkan, hanya karena Mitha yang mengatakan
bahwa muka kami mirip, lalu aku suka padanya? Oh tidak… itu tidak mungkin.
***
Hari Jum’at adalah hari terakhir dilaksanakannya
UTS dan Alhamdulillah berjalan lancar, yang sedikit mangganggu hanya ledekan dari
teman-temanku. Mereka membuatku kesal setengah mati, tapi aku lebih memilih
diam dari pada nantinya masalah ini malah menjadi semakin rumit. Aku hanya khawatir, jangan sampai karena ledekkan temanku, harus Ryo yang mendapat ketidaknyamanan itu.
Bel
pulang berbunyi. Pengawas di ruanganku belum selesai merapikan lembar jawaban
kami. Namun yang tak disangka-sangka penghuni ruang 9 yang bersebelahan dengan
ruanganku sudah keluar. Di luar kelas, hampir semua temanku menatap ke arahku
dan teman sebangkuku dengan tatapan meledek. Ada yang bahkan membentuk
tangannya menjadi bentuk hati dan memperlihatkannya di depan mataku. Ada juga
yang berteriak-teriak histeris layaknya penghuni rumah sakit jiwa.
“Cieeee…
cieeeeeee….” Suara itu begitu membuyarkan suasana seisi kelas.
Huh!
Aku kesal sekali! Malu banget! Untuk meredam amarahku, kupejamkan mataku dan
kutelungkupkan kepalaku di atas meja di tengah lipatan tanganku. Aduuh, Ibuu.. kenapa lama banget siiih?? Pikirku dalam hati.
Sesudah
pikiranku agak tenang, kuangkat wajahku. Sesaat aku terdiam terpaku. Di depanku
sudah terpajang wajah dengan senyum yang membuat hatiku berdesir. Ya, Ryo sedang menatapku dengan matanya yang meneduhkan dan
senyum itu. Tidak tidak, aku tidak boleh dibuat hanyut oleh tatapannya. Tapi tak bisa kudustai hatiku, kurasa aku benar-benar mulai menyukainya. Tapi aku segera sadar bahwa dia berbeda kepercayaan denganku. Aku harus cepat-cepat
menghilangkan rasa ini! Begitu tekadku dalam hati.
***
Kali ini Ujian Akhir Semester I. Teman-temanku benar-benar kurang ajar! Mereka selalu membuatku kesal dengan
ledekan-ledekan mereka yang benar-benar membuatku hampir gila. Bahkan tidak hanya sekedar ucapan meledek, temanku sampai melakukan hal memalukan di depan dia. Ryo disuruh temanku menembakku di depan kelas coba! Memalukan sekali.
Di
ujian kali ini aku tidak bisa lagi berbuat sewajarnya kapada Ryo. Rasanya aneh, tak sama lagi seperti waktu UTS dulu. Dia pun kini
mulai jarang mengajakku mengobrol. Aku pun tak lagi berani memulai percakapan
dengannya, akhirnya selama seminggu kamu ujian dan duduk sebangku, kami hanya diam membisu.
***
Ujian Tengah Semester II pun tiba.
Teman-temanku masih sama seperti itu. Bahkan sekarang ikat rambutku yang ikut menjadi korban keganasan mereka, "Biar makin cantik Ca digerai, kuncirannya gua pinjem ya". Apa-apaan, padahal aku sangat
tidak suka kalau tidak dikuncir. Satu kata, GERAH! Karena kelakuan temanku itu, aku harus selalu membawa
persediaan kunciran untuk stok jika kunciran yang sedang kugunakan diambil. Parahnya kunciran di rumahku hampir habis. Bayangkan, 3-5 kunciran kubawa setiap hari,
dan pastinya lenyap tak berbekas! Esok harinya kulihat kunciran-kunciranku
sudah bertengger dengan manisnya di rambut orang lain. Mereka hanya berkata
kepadaku.
“Mi,
kunciran elu bagus. Enak dipakenya! Gue pake aja deh! Hehe…” kata mereka sambil
cengengesan.
"Yeee. Terserah deh. Asal lu nggak ngeledekin gua lagi sama Ryo!" Dengusku
Kemudian fokusku kembali ke teman sebangkuku, Masih dengan perasaan yang sama, kini ku makin terpesona dengannya, bahkan sekarang ia tampak wangi dari sebelumnya. Seperti seseorang yang sedang bermimpi, aku hanya ingin tidur lebih lama lagi agar aku selalu bisa berdua dengannya.
Saat
ujian matematika berlangsung, aku kasihan melihatnya. Lembar jawabannya nyaris masih
kosong! Padahal waktu mengerjakan soal tinggal 30 menit lagi. Aku ingin sekali
membantunya, tapi aku malu. Akhirnya aku hanya bisa pasrah dan terus berdo’a
semoga Allah memudahkannya.
***
Sampai akhir Ujian Akhir Semester
II pun aku masih belum dapat menghilangkan perasaanku kepada Ryo.
Rasa sukaku malah makin menjadi-jadi, hal itu malah membuatku takut tidak akan
dapat melihatnya lagi duduk di sampingku. Rasanya pasti aneh. Ujianku pasti takkan
seindah dulu lagi.
* * *
Usai UAS II, banyak guru yang ingin melibuarkan diri, akhirnya kami para murid dapat bermain sepuas hati. Risya
pun bertanya kepadaku.
“Ca,
elu beneran suka sama Ryo?”
“Malu gua Sya ngomongnya”
“Ih,
gak apa Ca.. masa sama gue aja malu sih! Biasanya juga malu-maluin luu.”
“Ih,
tetep aja gua malu Sya kalo udah ngomongin soal begini”
“Eh yaudah keluar yok kita!”
Rohma
menggandengku menuju ke luar kelas. Putri, Fanny, dan Wiwi pun mengikuti kami.
“Ca,
lu beneran suka Ryo kan?”
“…..”
aku tak dapat berkata apa-apa.
“Ca,
kalo misalnya ditembak mau kan?”
Akhirnya aku membuka suara. “Jujur,
gue suka. Tapi gue gak mau pacaran…” jawabku agak malu-malu.
“Ahahahaaa… Caca beneran suka!” sementara Risya berceloteh sesuka hatinya, Putri, Wiwi, dan Fanny pun hanya terbengong-bengong menatapku.
“Iiiihh…
Risya dieeeeem!!!!” teriakku agak kesal.
***
Selain mereka berempat, tak
ada orang lain yang tahu tentang perasaan spesialku pada Ryo. Namun teman-teman
sekelasku tetap saja meledekku. Aku lelah, terlalu lelah untuk mendengar
apalagi menanggapi segala celotehan mereka yang sangat tidak penting itu.
Akhirnya jalan pasrahlah yang ku tempuh.
***
Kelas IX. Namaku tercatat sebagai
salah satu murid di kelas IX-9. Tiba-tiba Fanny datang.
“Ca,
Ryo di VIII-1”
“Hah??
Apa?? Sebelahan dong kelasnya?”
"Iya Caa, wah Allah emang baik ya. Kalo jodoh mah nggak kemana, Ca" Ucap Fanny dengan penuh semangat yang justru membuatku melongo dengan ucapannya barusan.
Perasaanku
saat itu campur aduk. Senang sih, karena kelas kami bersebelahan. Tapi aku malu, sebenarnya aku tak mau bertemu lagi
dengannya. Karena kurasa sudah cukup dia terseret begitu saja ke dalam masalahku. Dan aku
tahu bagaimana rasanya karena persoalan yang kami hadapi adalah persoalan yang
sama. Aku juga ingin sekali mencoba melupakannya. Aku tahu kalau kupertahankan
rasa ini, mungkin kedepannya aku hanya akan sedih karena tak bisa mengungkapkannya.
***
Sampai saat ini aku masih belum
dapat melupakannya. Semakin ku paksakan diriku untuk menghapus dirinya dari dalam pikiran dan hatiku rasanya malah semakin dirinya memenuhi ruang
dijiwaku.
Hampir
di setiap kesempatan aku bisa melihatnya, aku selalu menyempatkannya. Aku sering
sekali mengamati gerak-geriknya walaupun dalam jarak yang cukup jauh. Aku
memang tidak pandai mengintip, tapi seringkali akhirnya tatapan kami bertemu. Lantas aku langsung memalingkan tatapanku dari matanya. Aku malu. Kenapa bisa ketauan sih?? Malu-maluin aja sih Ca! Kataku dalam hati setiap intipanku
ketangkap basah olehnya.
Sampai suatu hari…
“Ca,
udah Ca, elu PDKT aja sih sama si Ryo” tiba-tiba Putri mengagetkanku dan mulai
nyerocos panjang kali lebar.
“Apaan
si?? Lo kira gampang, hah??”
“Iiiih…
nanti gue bantuin deh”
“Gak
ah! Gak mau!” tolakku mentah-mentah.
“Yah Ca…” wajahnya terlihat agak putus asa.
Satu
hal yang membuatku tak berani mempertahankan perasaanku terhadap Ryo adalah
karena perbedaan kepercayaan itu. Aku seorang muslim, dan dia katolik. Aku tak mau
terjebak dalam berbagai perangkap dalam dunia ini. Aku hanya bisa pasrah dan
terus berdo’a kepada Allah semoga suatu saat nanti aku dapat dipertemukan
kembali dengan Ryo sebagai sosok yang berbeda dan menganut agama yang sama denganku.
***
Di kelas baruku ini nomor absenku bukan lagi 24,
aku tidak sedih. Mungkin saja angka-angka lain akan memberiku warna dan sensasi yang lebih
terhadap hidupku saat ini. Yang penting aku akan selalu mengingat nomor absen
24-ku dan tentunya tak akan kulupakan. Angka itu begitu istimewa bagiku.
*****
Credit by : II


0 komentar :
Posting Komentar