Nomor Absen 24

Senin, 01 Januari 2018

Nomor Absen 24




   
     Nomor absenku 24. Aku sangat menyukainya. Tak akan kubiarkan kenangan itu menghilang begitu saja dari pikiranku karena dari situlah kisah bahagiaku dimulai.

      Saat aku masih duduk di bangku kelas VIII, aku mendapat nomor urut 24 dalam buku absensi. Awalnya kukira tak akan seindah nomor absen 20-ku di kelas sebelumnya. Ternyata memiliki absen 24 lebih dari sekedar indah.

     Sistem sekolah yang menerapkan bahwa saat ujian berlangsung kelas VIII akan digabung dengan kelas VII memberikan warna tersendiri bagiku. Aku senang karena saat ujian tidak duduk sendiri. Namun aku juga sedikit sedih karena rasanya ada yang kurang jika saat ujian nanti aku tidak akan duduk sebangku lagi dengan sahabatku, sekaligus teman sebangkuku. Wiwi namanya. Walaupun dia agak lambat, tapi aku senang bila berada dekat dengannya. Dia teman terdekatku sejak kelas VII.

***

     Hari itu pun tiba. Guru piket membagikan kartu peserta ujian kepada seluruh murid penghuni kelas VIII-5. Aku agak sedih ketika namaku dipanggil. Aku membayangkan perkiraan terburuk yang akan terjadi. Akankah tempat dudukku dengan Wiwi akan berjauhan? Itulah yang terbersit di otakku. Setelah aku menyamakan kartuku dengan Wiwi untungnya kami masih satu ruangan yang sama, ruang 10.

***

      Ujian Tengah Semester I pun datang dan baru akan dimulai pukul 12.30 WIB, aku sengaja datang lebih awal bermaksud untuk membahas soal UTS tahun kemarin bersama teman-temanku untuk memantapkan belajarku. Aku membahasnya di tempat Wiwi berada, di bangku paling belakang. Sedangkan aku duduk di bangku urutan kedua dari depan.

      Sekilas kulihat seseorang yang akan duduk bersamaku selama ujian nanti. Saat dia datang, tempat duduk ku langsung ramai dipenuhi banyak orang, ya mungkin saja mereka ingin mengobrol dengannya.

      “Yah… cowok! Gak seru nih…”

      “Kenapa Mi? Samping lu ya? Hahaaa kasiiiiaaan…”

      “Hah? Kenapa Wi?” saat itu aku baru sadar kalau ternyata aku sudah menyuarakan kata hatiku. Menyebalkan.

***

Teeett… teeett… bel masuk berbunyi. Aku segera bangkit dari tempat duduk Wia dan berjalan ke arah tempat dudukku. Sebelum pengawas datang, aku mulai mengobrol dengan teman sebangkuku.

      “Hai, hari ini pelajaran apa?”

      “PLKJ kak”

      “Satu lagi apa?”

      “Oh, sama TIK kak. Emang kenapa kak? Kakak mau bantuin aku?” Katanya sambil tersenyum sedikit melihatkan deretan giginya yang rapi

      “Ooh gapapa kok yakali bantuin. Entar diomelin yang ada hehe”

      Obrolan kami pun berlanjut. Aku mulai nyaman berbicara dengannya. Dia asyik dan tidak canggung denganku.

      Kegiatan hari itu pun selesai. Setelah selesai berdo’a, Mitha teman sekelas sekaligus seruangan denganku tiba-tiba memberondongku.

      “Cie… Ismiii…kenalin ke kita dong” katanya sambil mengedip-ngedipkan matanya.

      “Kenapa sih mit? Siapa juga yang mau gue kenalin?” tampangku saat itu agak bloon karena kebingungan.

      “Muka kalian berdua mirip tauuu… Cocok!” katanya dengan nada yang agak meledek.

      Saat itu aku baru menyadari kalau teman sebangkuku juga sedang menatap Mitha. Setelah Mitha selesai bicara, teman sebangkuku balik badan dan menatapku yang sedang terbengong-bengong. Saat aku sadar ada yang menatapku, aku jadi balik menatapnya. Aku baru sadar kalau teman sebangkuku sangat menggemaskan! Aku ingin sekali mencubit pipinya. Namun aku sadar kalau sudah waktunya untuk pulang.

***

        Di rumah, aku malah jadi kepikiran kata-kata Mitha di sekolah tadi. Aku menatap bayanganku di depan cermin, aku tidak percaya karena menurutku mukaku sama sekali tidak mirip dengan teman sebangkuku. Namun entah kenapa aku merasa senang. Aku bingung dengan diriku sendiri. Kenapa aku senang hanya karena kata-kata Mitha tadi? Padahal semua itu Mitha lakukan hanya untuk meledekku. Ya sudahlah, aku akan menganggap kata-kata Mitha tadi tak pernah kedungar. Mungkin besok aku akan lupa. Mending aku belajar saja untuk ujian besok.

***

      Esok harinya entah kenapa aku menduga semua orang sudah mendengar kata-kata Mitha kemarin, karena mendadak semua orang yang bertemu denganku jadi meledekku. Bahkan ada saja yang mengataiku dengan panggilan Ryo. Benar saja, Ryo ternyata teman sebangkuku saat ujian.

       Aku lelah mendengar perkataan-perkataan mereka tentangku. Namun setiap kali aku mengelak, ejekan mereka semakin menjadi. Aku hanya bisa pasrah atas semua yang terjadi. Setelah bel pulang sekolah nanti, mungkin penderitaanku akan berakhir.

***

      Hari-hari berikutnya pun sama seperti sebelumnya. Aku sudah lelah untuk peduli terhadap perkataan mereka tentangku. Namun semakin ku menyingkirkan perkataan mereka, semakin hatiku tidak rela melepasnya. Aku ini kenapa? Apa aku menyukainya? Aku ragu. Kenapa semudah itu aku menyukainya? Bayangkan, hanya karena Mitha yang mengatakan bahwa muka kami mirip, lalu aku suka padanya? Oh tidak… itu tidak mungkin.

***

      Hari Jum’at adalah hari terakhir dilaksanakannya UTS dan Alhamdulillah berjalan lancar, yang sedikit mangganggu hanya ledekan dari teman-temanku. Mereka membuatku kesal setengah mati, tapi aku lebih memilih diam dari pada nantinya masalah ini malah menjadi semakin rumit. Aku hanya khawatir, jangan sampai karena ledekkan temanku, harus Ryo yang mendapat ketidaknyamanan itu.

      Bel pulang berbunyi. Pengawas di ruanganku belum selesai merapikan lembar jawaban kami. Namun yang tak disangka-sangka penghuni ruang 9 yang bersebelahan dengan ruanganku sudah keluar. Di luar kelas, hampir semua temanku menatap ke arahku dan teman sebangkuku dengan tatapan meledek. Ada yang bahkan membentuk tangannya menjadi bentuk hati dan memperlihatkannya di depan mataku. Ada juga yang berteriak-teriak histeris layaknya penghuni rumah sakit jiwa.

      “Cieeee… cieeeeeee….” Suara itu begitu membuyarkan suasana seisi kelas.

     Huh! Aku kesal sekali! Malu banget! Untuk meredam amarahku, kupejamkan mataku dan kutelungkupkan kepalaku di atas meja di tengah lipatan tanganku. Aduuh, Ibuu.. kenapa lama banget siiih??  Pikirku dalam hati.

      Sesudah pikiranku agak tenang, kuangkat wajahku. Sesaat aku terdiam terpaku. Di depanku sudah terpajang wajah dengan senyum yang membuat hatiku berdesir. Ya, Ryo sedang menatapku dengan matanya yang meneduhkan dan senyum itu. Tidak tidak, aku tidak boleh dibuat hanyut oleh tatapannya. Tapi tak bisa kudustai hatiku, kurasa aku benar-benar mulai menyukainya. Tapi aku segera sadar bahwa dia berbeda kepercayaan denganku. Aku harus cepat-cepat menghilangkan rasa ini! Begitu tekadku dalam hati.

***

     Kali ini Ujian Akhir Semester I. Teman-temanku benar-benar kurang ajar! Mereka selalu membuatku kesal dengan ledekan-ledekan mereka yang benar-benar membuatku hampir gila. Bahkan tidak hanya sekedar ucapan meledek, temanku sampai melakukan hal memalukan di depan dia. Ryo disuruh temanku menembakku di depan kelas coba! Memalukan sekali.

      Di ujian kali ini aku tidak bisa lagi berbuat sewajarnya kapada Ryo. Rasanya aneh, tak sama lagi seperti waktu UTS dulu. Dia pun kini mulai jarang mengajakku mengobrol. Aku pun tak lagi berani memulai percakapan dengannya, akhirnya selama seminggu kamu ujian dan duduk sebangku, kami hanya diam membisu.

***

     Ujian Tengah Semester II pun tiba. Teman-temanku masih sama seperti itu. Bahkan sekarang ikat rambutku yang ikut menjadi korban keganasan mereka, "Biar makin cantik Ca digerai, kuncirannya gua pinjem ya". Apa-apaan, padahal aku sangat tidak suka kalau tidak dikuncir. Satu kata, GERAH! Karena kelakuan temanku itu, aku harus selalu membawa persediaan kunciran untuk stok jika kunciran yang sedang kugunakan diambil. Parahnya kunciran di rumahku hampir habis. Bayangkan, 3-5 kunciran kubawa setiap hari, dan pastinya lenyap tak berbekas! Esok harinya kulihat kunciran-kunciranku sudah bertengger dengan manisnya di rambut orang lain. Mereka hanya berkata kepadaku.

     “Mi, kunciran elu bagus. Enak dipakenya! Gue pake aja deh! Hehe…” kata mereka sambil cengengesan.
        "Yeee. Terserah deh. Asal lu nggak ngeledekin gua lagi sama Ryo!" Dengusku

    Kemudian fokusku kembali ke teman sebangkuku, Masih dengan perasaan yang sama, kini ku makin terpesona dengannya, bahkan sekarang ia tampak wangi dari sebelumnya. Seperti seseorang yang sedang bermimpi, aku hanya ingin tidur lebih lama lagi agar aku selalu bisa berdua dengannya.

      Saat ujian matematika berlangsung, aku kasihan melihatnya. Lembar jawabannya nyaris masih kosong! Padahal waktu mengerjakan soal tinggal 30 menit lagi. Aku ingin sekali membantunya, tapi aku malu. Akhirnya aku hanya bisa pasrah dan terus berdo’a semoga Allah memudahkannya.

***

     Sampai akhir Ujian Akhir Semester II pun aku masih belum dapat menghilangkan perasaanku kepada Ryo. Rasa sukaku malah makin menjadi-jadi, hal itu malah membuatku takut tidak akan dapat melihatnya lagi duduk di sampingku. Rasanya pasti aneh. Ujianku pasti takkan seindah dulu lagi.



*  *  *



     Usai UAS II, banyak guru yang ingin melibuarkan diri, akhirnya kami para murid dapat bermain sepuas hati. Risya pun bertanya kepadaku.

      “Ca, elu beneran suka sama Ryo?”

      “Malu gua Sya ngomongnya”

      “Ih, gak apa Ca.. masa sama gue aja malu sih! Biasanya juga malu-maluin luu.”

      “Ih, tetep aja gua malu Sya kalo udah ngomongin soal begini”

      “Eh yaudah keluar yok kita!”

      Rohma menggandengku menuju ke luar kelas. Putri, Fanny, dan Wiwi pun mengikuti kami.

      “Ca, lu beneran suka Ryo kan?”

      “…..” aku tak dapat berkata apa-apa.

      “Ca, kalo misalnya ditembak mau kan?”

Akhirnya aku membuka suara. “Jujur, gue suka. Tapi gue gak mau pacaran…” jawabku agak malu-malu.

      “Ahahahaaa… Caca beneran suka!” sementara Risya berceloteh sesuka hatinya, Putri, Wiwi, dan Fanny pun hanya terbengong-bengong menatapku.

      “Iiiihh… Risya dieeeeem!!!!” teriakku agak kesal.

***

     Selain mereka berempat, tak ada orang lain yang tahu tentang perasaan spesialku pada Ryo. Namun teman-teman sekelasku tetap saja meledekku. Aku lelah, terlalu lelah untuk mendengar apalagi menanggapi segala celotehan mereka yang sangat tidak penting itu. Akhirnya jalan pasrahlah yang ku tempuh.

***

Kelas IX. Namaku tercatat sebagai salah satu murid di kelas IX-9. Tiba-tiba Fanny datang.

      “Ca, Ryo di VIII-1”

      “Hah?? Apa?? Sebelahan dong kelasnya?”

      "Iya Caa, wah Allah emang baik ya. Kalo jodoh mah nggak kemana, Ca" Ucap Fanny dengan penuh semangat yang justru membuatku melongo dengan ucapannya barusan.

      Perasaanku saat itu campur aduk. Senang sih, karena kelas kami bersebelahan. Tapi aku malu, sebenarnya aku tak mau bertemu lagi dengannya. Karena kurasa sudah cukup dia terseret begitu saja ke dalam masalahku. Dan aku tahu bagaimana rasanya karena persoalan yang kami hadapi adalah persoalan yang sama. Aku juga ingin sekali mencoba melupakannya. Aku tahu kalau kupertahankan rasa ini, mungkin kedepannya aku hanya akan sedih karena tak bisa mengungkapkannya.


***


     Sampai saat ini aku masih belum dapat melupakannya. Semakin ku paksakan diriku untuk menghapus dirinya dari dalam pikiran dan hatiku rasanya malah semakin dirinya memenuhi ruang dijiwaku.

      Hampir di setiap kesempatan aku bisa melihatnya, aku selalu menyempatkannya. Aku sering sekali mengamati gerak-geriknya walaupun dalam jarak yang cukup jauh. Aku memang tidak pandai mengintip, tapi seringkali akhirnya tatapan kami bertemu. Lantas aku langsung memalingkan tatapanku dari matanya. Aku malu. Kenapa bisa ketauan sih?? Malu-maluin aja sih Ca!  Kataku dalam hati setiap intipanku ketangkap basah olehnya.



Sampai suatu hari…

      “Ca, udah Ca, elu PDKT aja sih sama si Ryo” tiba-tiba Putri mengagetkanku dan mulai nyerocos panjang kali lebar.

      “Apaan si?? Lo kira gampang, hah??”

      “Iiiih… nanti gue bantuin deh”

      “Gak ah! Gak mau!” tolakku mentah-mentah.

      “Yah Ca…” wajahnya terlihat agak putus asa.

      Satu hal yang membuatku tak berani mempertahankan perasaanku terhadap Ryo adalah karena perbedaan kepercayaan itu. Aku seorang muslim, dan dia katolik. Aku tak mau terjebak dalam berbagai perangkap dalam dunia ini. Aku hanya bisa pasrah dan terus berdo’a kepada Allah semoga suatu saat nanti aku dapat dipertemukan kembali dengan Ryo sebagai sosok yang berbeda dan menganut agama yang sama denganku.

***

      Di kelas baruku ini nomor absenku bukan lagi 24, aku tidak sedih. Mungkin saja angka-angka lain akan memberiku warna dan sensasi yang lebih terhadap hidupku saat ini. Yang penting aku akan selalu mengingat nomor absen 24-ku dan tentunya tak akan kulupakan. Angka itu begitu istimewa bagiku.
*****
Credit by : II 

0 komentar :

Posting Komentar