Liburanku yang Suram
Libur dua
minggu setelah pengambilan raport adalah hari menyenangkan bagiku. Karena
setelah berusaha keras untuk mendapatkan nilai yang memuaskan dengan belajar
siang dan malam. Akhirnya aku bisa juga menenangkan pikiranku.
Hari
pertama liburan ku gunakan untuk bersantai–santai terlebih dahulu.
“Tia
tumben nggak jalan–jalan? Biasanya kalau lagi liburan pengennya jalan–jalan
terus? Tumben” Tanya mamaku
“Enggak ah ma, lagi pengen dirumah dulu, nanti kalau ingin
jalan–jalan septi juga akan jalan-jalan”. Jawabku.
Saat itu aku memang
sedang tidak ingin jalan–jalan, karena aku sedang ingin bermalas–malasan
dirumah terlebih dahulu.
Seminggu
kemudian mamaku menawarkanku untuk menginap dirumah dirumah saudaraku.
“Tia,
kamu mau menginap di rumah tante Hesti nggak? kamu disuruh temenin Ratna, besok tante
Hesti sama suaminya akan pergi ke Bandung untuk urusan pekerjaan."
Dengan tidak
berpikir panjang akupun menjawab.
“Iya deh ma, Tia mau" Jawab ku cepat
Ratna adalah anak
satu – satunya tante Hesti yang umurnya hanya berbeda satu bulan denganku, jadi
tidak heran kalau Ratna sangat disayang oleh tante Hesti.
“Ya
sudah, kalau begitu, mama telfon tante kamu dulu biar besok dia jemput kamu
sebelum dia berangkat ke Bandung” kata mama sambil mengeluarkan HP dari
kantung celananya.
"Oke, ma!"
jawabku.
Pagi –
pagi sekali tante Hesti sudah berada dirumahku. Kamipun berangkat menuju rumah
tanteku.
Aku
mangikuti langkah tanteku menuju ke dalam rumahnya.
“Ini tempat tidur kamu,
nanti kamu tidurnya sama Ratna ya?" tanya tanteku
“Iya tante, tante Ratnanya
kemana?” tanyaku.
“oh iya, paling dia lagi main sama teman – temannya, Ti. Maafin ya anak tante emang suka begitu"
Tidak
lama kemudian Ratna datang.
“Tia sudah lama ya datangnya? Maaf ya, tadi aku pergi
dulu kerumah temen. Ada urusan yang enggak bisa ditunda lagi” ucap Ratna.
“Iya enggak apa-apa kok, tapi nanti kamu harus baik-baikin aku ya, kan ini
pertama kalinya aku nginap di rumah kamu hehe” candaku.
Setelah
tante Hesti barangkat ke Bandung, kami pun menggunakan waktu kami untuk
berbincang-bincang. Mulai dari kegiatan kami di sekolah, hingga kami curhat
masalah pribadi. Aku dan Ratna memang sering curhat satu sama lain.
Waktu
menunjukkan pukul Sembilan malam. Ratna dengan tergesa-gesanya menuju ke
arahku
"Tia, maaf lagi yah, aku mau pergi dulu. Ada urusan”
“Jam segini? Apa
nggak terlalu malam?” tanyaku heran.
Tanpa sempat menjawab pertanyaanku, ia
langsung pergi ke luar menghampiri motornya.
Aku
ketiduran karena bosan menunggu Ratna yang tak pulang-pulang.
“Tok..tok..tok.., Tia bukain pintunya dong” teriak Ratna. Akupun terbangun. Aku memang mengunci pintunya, itu kebiasaanku jika sedang sendirian di rumah.
“iya sebentar dulu” jawabku dari dalam rumah sambil berusaha membuka pintu.
“Udah tidur?” tanyanya saat aku membuka
pintu
“Iya tadi ketiduran, maaf ya, aku tadi ngunci pintunya”
“Iya, nggak apa-apa” jawab Ratna.
“Kalau masih ngantuk, tidur aja lagi, aku mau mandi dulu” sambungnya cepat.
“Baiklah” jawabku singkat.
Akupun
melanjutkan tidurku. Namun, tidak lama kemudian, aku mendengar suara bola.
“Duk..duk…duk…”
Aku terbangun
dari tidurku. Kulihat Ratna sedang mendribble bola basketnya di dalam kamar.
“Eh kamu bangun, maaf ya jadi ganggu tidur kamu. Aku nggak bias tidur kalau
nggak main basket dulu. Nggak apa-apa kan?” tanyanya.
“Iya, enggak apa-apa kok” Jawabku. Padahal dalam hati aku menggerutu, sebenarnya aku sedikit terganggu dengan suara bola itu.
Aku pikir
setelah suara bola basket itu berhenti aku dapat tertidur dengan lelap.
Namun, aku salah. Setelah Ratna bermain basket, ia memutar minicompo miliknya.
Karena aku merasa terganggu dan tidak bisa tidur. Aku mematikan minicompo
miliknya saat ia sudah tertidur. Mungkin, karena ia merasa tidak ada musik yang
menemaninya saat ia tertidur. Ia pun terbangun
“Kok dimatiin sih?!” Teriak
Ratna.
Ia pun langsung menyalakan kembali minicomponya kembali. Akupun mengalah
dan kembali berusaha tidur. Pikirku, mungkin nanti musiknya akan berhenti jika
sudah habis. Namun, aku salah, ternyata minicompo miliknya dapat memutar lagu
semalaman dan bolak-balik secara otomatis tanpa berhenti. Aku kembali
mengalah, ujung-ujungnya sudah pasti, aku tidak bisa tidur.
Keesokan
harinya aku bangu pagi-pagi sekali, saat Ratna belum terbangun dari tidurnya
untuk membereskan barang-barang milikku. Tak ada lagi barang yang tertinggal.
Setelah benar-benar yakin, aku mematikan minicompo itu dengan geram. Dan
memang benar, Ratna terbangun. Sekejap aku merasa lucu. Alangkah mudahnya
membangunkan Ratna.
“Lho, kamu mau kemana?” Ratna melongo melihat tas milikku.
“Pulang ke rumah, tugasku sudah selesai. Aku pamit ya Rat”. Suara mobil mamaku
sudah terdengar. Setelah aku pamitan. Aku pulang bersama mamaku menuju ke rumah.
*****
Credit by : SW

0 komentar :
Posting Komentar