Membangun Citra Perawat di Indonesia

Jumat, 29 Desember 2017

Membangun Citra Perawat di Indonesia



Memang sudah tidak asing lagi ketika mendengar istilah “keperawatan” dalam dunia kesehatan. Namun, meski familiar di telinga tetap saja masih tak banyak yang mengerti apa definisi dan makna keperawatan itu sendiri. Memaknai arti sebuah kata tidaklah dilakukan dengan sembarang, diperlukan pemahaman juga pengertian dalam mengartikulasinya. Secara umum, definisi keperawatan ialah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan. Keperawatan merupakan ilmu terapan yang menggunakan keterampilan interpersonal serta menggunakan proses keperawatan dalam membantu klien/ pasien untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal (Rifiani, 2013).
Maksud dari pernyataan tersebut adalah bahwa keperawatan juga mempelajari bentuk serta sebab atas tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia, juga mempelajari berbagai upaya untuk mencapai kebutuhan dasar. Atas bekal ilmu dan kiat keperawatan yang mencakup kemampuan intelektual dan keterampilan teknik, perawat mampu menerapkannya sesuai kepada kebutuhan manusia baik yang mencakup rumpun biologis, psikologis, sosiokultural, ataupun spiritual yang komprehensif.
Perawat bukanlah seorang tenaga kerja kesehatan yang bekerja merawat klien/ pasien tanpa kasih sayang. Bukan pula sebagai sosok “pembantu dokter” yang bekerja sesuai dengan perintah dokter, dapat disuruh-suruh sesuka hati, dan sering pula disamakan dengan bidan. Namun, perawat ialah sosok pekerja pelayanan kesehatan profesional yang paling mulia, setiap harinya tanpa mengenal lelah menjadi barisan terdepan dalam proses pemeriksaan, perawatan dan pelayanan medis sebelum ditangani oleh dokter. Karena dokter dan perawat harus selalu bekerja berdampingan, bukan berarti perawat ialah pembantu dokter. Karena dalam pelayanannya, perawat dibutuhkan untuk menunjang kinerja dokter supaya dapat memberikan pelayanan medis yang tepat pada pasiennya. Selain itu, hubungan antara perawat dengan dokter sebagai mitra kerja, tentunya harus disertai pula dengan pengakuan dan penghormatan terhadap profesi perawat (Rifiani, 2013).
Jikalau sampai sekarang masih banyak khalayak yang masih memandang rendah perawat, berarti mereka tidaklah memahami makna keperawatan itu sendiri. Benar-benar sampai hati jika perawat yang rela hari-harinya dilalui hanya demi meningkatkan kesehatan pasiennya, dan secara optimal mencegah penyakit pasien hanya dihargai khalayak dengan cara merendahkannya. Padahal tanpa disadari dan tanpa diragukan lagi, setiap tindakan dan intervensi tepat yang dilakukan oleh seorang perawat, akan sangat berharga bagi nyawa orang lain.
Terlepas dari hal tersebut, tak luput etika keperawatan, standar keperawatan, proses keperawatan, kefokusan pada klien, wewenang, dan tanggung jawab keperawatan juga dibutuhkan perawat dalam pelayanannya terhadap klien. Menyertakan pula keandilan perawat terhadap masyarakat memang begitu besar. Yang dulunya layanan kesehatan hanya berorientasi kepada individu yang sakit, kini orientasi tersebut meluas hingga kepada individu yang sehat. Hal itu terjadi karena sekarang keperawatan memang telah mengalami perkembangan yang kian pesat. Akan selalu ada upaya dibalik itu semua demi meningkatkan citra bangsa, profesi keperawatan harus selalu mengembangkan dirinya dengan berpartisipasi secara aktif untuk melaksanakan pelayanan kesehatan secara optimal dan ideal. Bahkan perawat terus berupaya meningkatkan perannya sebagai mitra kerja dokter, seperti yang telah marak dilakukan oleh negara-negara maju.
Sebagai upaya dengan tidak mengesampingkan etika dalam bekerja sebagai perawat profesional, maka terdapat cerminan nilai profesional perawat dalam praktik keperawatan, diantaranya ialah nilai intelektual dan nilai komitmen moral interpersonal. Nilai intelektual dalam praktik keperawatan terdiri dari badan pengetahuan, pendidikan spesialisasi, dan penggunaan pengetahuan dalam berpikir secara kritis, kreatif, dan inovatif.
Sedangkan nilai komitmen moral interpersonal dalam pelayanan keperawatan dibekali konsep “mengutamakan kepentingan orang lain” dan tetap memperhatikan kode etik keperawatan. Menurut Beauchamp & Walters (1989) pelayanan profesional terhadap masyarakat memerlukan integritas, komitmen moral dan tanggung jawab etik. Dan aspek moral yang harus menjadi landasan perilaku perawat itu sendiri ialah Beneficience, yakni selalu mengupayakan keputusan yang dibuat berdasarkan keinginan melakukan yang terbaik dan tidak merugikan klien. Sementara Fidelity, yakni berperilaku peduli, kasih sayang, dan perasaan ingin membantu, selalu berusaha menepati janji, memberikan harapan yang memadahi, komitmen moral serta memperhatikan kebutuhan spiritual  pasien.
Konsep organisasi atau lingkup profesi keperawatan yang dirumuskan oleh Amerika Serikat belakangan ini mulai diadaptasi oleh banyak negara di dunia, baik negara maju maupun negara berkembang, yaitu tidak hanya perawat di rumah sakit, namun juga di klinik, fasilitas pelayanan keperawatan, pelayanan keperawatan di rumah, pelayanan keperawatan umum/ swasta, perawat di instansi umum, perawat supervisi, perawat praktisi, dan sampai pada lingkup kerja keperawatan tertinggi ialah sebagai ahli/ spesialis klinik (Asmadi, 2005).
Menjadi perawat ideal di mata masyarakat tidaklah mudah, diperlukan kompetensi yang baik dalam hal menjalankan peran dan fungsi sebagai perawat. Seorang perawat profesional haruslah mampu menjalankan peran dan fungsinya dengan baik. Adapun peran perawat yang selalu jadi sorotan bagi masyarakat luas masa kini diantaranya ialah pemberi perawatan, pemberi keputusan klinis, pelindung dan advokat klien, manajer kasus, rehabilitator, pemberi kenyamanan, komunikator, penyuluh, dan peran karier. Semua peran tersebut sangatlah berpengaruh dalam membangun citra perawat di masyarakat. Juga merupakan sebagian kecil gambaran mengenai peran yang dapat dilakukan oleh seorang perawat profesional dalam membangun citra perawat ideal di mata masyarakat (Setiani, 2009).
Masih banyak lagi hal lain yang dapat dilakukan oleh seorang perawat profesional untuk menciptakan citra perawat yang lebih baik. Perkembangan ilmu kedokteran, begitu besar kaitannya dengan teknologi informasi dan komunikasi. Sehingga, dengan semakin cepatnya arus informasi dan pengetahuan yang difasilitasi oleh teknologi informasi dan komunikasi, membuat perkembangan dunia kedokteran menjadi semakin pesat dan sudah menjadi sebuah keharusan bagi para aktornya termasuk perawat untuk tetap meningkatkan skill-nya baik yang berupa soft skill maupun hard skil. Untuk mewujudkannya, tentu saja diperlukan kompetensi yang memadai, kemauan yang besar, dan keseriusan dari dalam diri untuk membangun citra keperawatan menjadi lebih baik. Perawat yang terampil, cerdas, baik, komunikatif, dan dapat menjalankan peran serta fungsinya dengan baik sesuai dengan kode etik dambaan semua orang. Semoga mahasiswa baru FIK UI angkatan 2015 dapat menjadi perawat profesional yang mampu menjadi pelopor bagi perawat-perawat lain dalam membawa citra perawat yang baik di mata masyarakat.

Daftar Pustaka
Asmadi, (2005), Konsep Dasar Keperawatan, Jakarta: EGC

Firdaus,. O.M, et.al. (2013). Makara Journal of Health Research. Motivasi Dokter dalam Kegiatan Berbagi Pengetahuan pada Rumah Sakit Pendidikan di Indonesia, Vol 17, No 2.

Nisya Rifiani dan Hartanti Sulihandari, (2013), Prinsip-Prinsip Dasar Keperawatan. Jakarta:  Dunia Cerdas.
Sujana,.R.S, (2009, May 4). Peran Perawat Profesional dalam Membangun Citra Perawat Ideal   di Mata Masyarakat. Retrieved from August 22, 2015, from https://rani.setiani/2009/05/04/peran-perawat-profesional-dalam-membangun-citra-perawat-ideal-di-mata-masyarakat/

0 komentar :

Posting Komentar