Membangun Citra Perawat di Indonesia
Memang sudah tidak asing
lagi ketika mendengar istilah “keperawatan” dalam dunia kesehatan. Namun, meski
familiar di telinga tetap saja masih tak banyak yang mengerti apa definisi dan
makna keperawatan itu sendiri. Memaknai arti sebuah kata tidaklah dilakukan
dengan sembarang, diperlukan pemahaman juga pengertian dalam mengartikulasinya. Secara umum, definisi keperawatan ialah suatu bentuk pelayanan
profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan.
Keperawatan merupakan ilmu terapan yang menggunakan keterampilan interpersonal
serta menggunakan proses keperawatan dalam membantu klien/ pasien untuk
mencapai tingkat kesehatan yang optimal (Rifiani, 2013).
Maksud dari pernyataan
tersebut adalah bahwa keperawatan juga mempelajari bentuk serta sebab atas
tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia, juga mempelajari berbagai upaya
untuk mencapai kebutuhan dasar. Atas bekal ilmu dan kiat keperawatan yang
mencakup kemampuan intelektual dan keterampilan teknik, perawat mampu
menerapkannya sesuai kepada kebutuhan manusia baik yang mencakup rumpun biologis,
psikologis, sosiokultural, ataupun spiritual yang komprehensif.
Perawat
bukanlah seorang tenaga kerja kesehatan yang bekerja merawat klien/ pasien
tanpa kasih sayang. Bukan pula sebagai sosok “pembantu dokter” yang bekerja
sesuai dengan perintah dokter, dapat disuruh-suruh sesuka hati, dan sering pula
disamakan dengan bidan. Namun, perawat ialah sosok pekerja pelayanan kesehatan profesional
yang paling mulia, setiap harinya tanpa mengenal lelah menjadi barisan terdepan
dalam proses pemeriksaan, perawatan dan pelayanan medis sebelum ditangani oleh
dokter. Karena dokter dan perawat harus selalu bekerja berdampingan, bukan
berarti perawat ialah pembantu dokter. Karena dalam pelayanannya, perawat
dibutuhkan untuk menunjang kinerja dokter supaya dapat memberikan pelayanan
medis yang tepat pada pasiennya. Selain itu, hubungan antara perawat dengan
dokter sebagai mitra kerja, tentunya harus disertai pula dengan pengakuan dan
penghormatan terhadap profesi perawat (Rifiani, 2013).
Jikalau sampai sekarang
masih banyak khalayak yang masih memandang rendah perawat, berarti mereka tidaklah
memahami makna keperawatan itu sendiri. Benar-benar sampai hati jika perawat
yang rela hari-harinya dilalui hanya demi meningkatkan kesehatan pasiennya, dan
secara optimal mencegah penyakit pasien hanya dihargai khalayak dengan cara
merendahkannya. Padahal tanpa disadari dan tanpa diragukan lagi, setiap
tindakan dan intervensi tepat yang dilakukan oleh seorang perawat, akan sangat
berharga bagi nyawa orang lain.
Terlepas dari hal
tersebut, tak luput etika keperawatan, standar keperawatan, proses keperawatan,
kefokusan pada klien, wewenang, dan tanggung jawab keperawatan juga dibutuhkan
perawat dalam pelayanannya terhadap klien. Menyertakan pula keandilan perawat
terhadap masyarakat memang begitu besar. Yang dulunya layanan kesehatan hanya
berorientasi kepada individu yang sakit, kini orientasi tersebut meluas hingga
kepada individu yang sehat. Hal itu terjadi karena sekarang keperawatan memang
telah mengalami perkembangan yang kian pesat. Akan selalu ada upaya dibalik itu
semua demi meningkatkan citra bangsa, profesi keperawatan harus selalu
mengembangkan dirinya dengan berpartisipasi secara aktif untuk melaksanakan
pelayanan kesehatan secara optimal dan ideal. Bahkan perawat terus berupaya
meningkatkan perannya sebagai mitra kerja dokter, seperti yang telah marak
dilakukan oleh negara-negara maju.
Sebagai upaya dengan
tidak mengesampingkan etika dalam bekerja sebagai perawat profesional, maka
terdapat cerminan nilai profesional perawat dalam praktik keperawatan,
diantaranya ialah nilai intelektual dan nilai komitmen moral interpersonal. Nilai intelektual dalam
praktik keperawatan terdiri dari badan pengetahuan, pendidikan spesialisasi,
dan penggunaan pengetahuan dalam berpikir secara kritis, kreatif, dan inovatif.
Sedangkan nilai komitmen
moral interpersonal dalam pelayanan keperawatan dibekali konsep “mengutamakan
kepentingan orang lain” dan tetap memperhatikan kode etik keperawatan. Menurut
Beauchamp & Walters (1989) pelayanan profesional terhadap masyarakat
memerlukan integritas, komitmen moral dan tanggung jawab etik. Dan aspek moral
yang harus menjadi landasan perilaku perawat itu sendiri ialah Beneficience, yakni selalu mengupayakan
keputusan yang dibuat berdasarkan keinginan melakukan yang terbaik dan tidak
merugikan klien. Sementara Fidelity,
yakni berperilaku peduli, kasih sayang, dan perasaan ingin membantu, selalu
berusaha menepati janji, memberikan harapan yang memadahi, komitmen moral serta
memperhatikan kebutuhan spiritual
pasien.
Konsep
organisasi atau lingkup profesi keperawatan yang dirumuskan oleh Amerika
Serikat belakangan ini mulai diadaptasi oleh banyak negara di dunia, baik
negara maju maupun negara berkembang, yaitu tidak hanya perawat di rumah sakit,
namun juga di klinik, fasilitas pelayanan keperawatan, pelayanan keperawatan di
rumah, pelayanan keperawatan umum/ swasta, perawat di instansi umum, perawat
supervisi, perawat praktisi, dan sampai pada lingkup kerja keperawatan
tertinggi ialah sebagai ahli/ spesialis klinik (Asmadi, 2005).
Menjadi perawat ideal
di mata masyarakat tidaklah mudah, diperlukan kompetensi yang baik dalam hal menjalankan peran
dan fungsi sebagai perawat. Seorang perawat profesional haruslah mampu
menjalankan peran dan fungsinya dengan baik. Adapun peran perawat yang selalu
jadi sorotan bagi masyarakat luas masa kini diantaranya ialah pemberi
perawatan, pemberi keputusan klinis, pelindung dan advokat klien, manajer
kasus, rehabilitator, pemberi kenyamanan, komunikator, penyuluh, dan peran
karier. Semua peran tersebut sangatlah berpengaruh dalam membangun citra
perawat di masyarakat. Juga merupakan sebagian kecil gambaran mengenai peran
yang dapat dilakukan oleh seorang perawat profesional dalam membangun citra
perawat ideal di mata masyarakat (Setiani, 2009).
Masih banyak lagi hal lain yang dapat
dilakukan oleh seorang perawat profesional untuk menciptakan citra perawat yang
lebih baik. Perkembangan ilmu kedokteran, begitu besar kaitannya dengan
teknologi informasi dan komunikasi. Sehingga, dengan semakin cepatnya arus
informasi dan pengetahuan yang difasilitasi oleh teknologi informasi dan
komunikasi, membuat perkembangan dunia kedokteran menjadi semakin pesat dan
sudah menjadi sebuah keharusan bagi para aktornya termasuk perawat untuk tetap
meningkatkan skill-nya
baik yang berupa soft skill
maupun hard skil. Untuk
mewujudkannya, tentu saja diperlukan kompetensi yang memadai, kemauan yang
besar, dan keseriusan dari dalam diri untuk membangun citra keperawatan menjadi
lebih baik. Perawat yang terampil, cerdas, baik, komunikatif, dan dapat
menjalankan peran serta fungsinya dengan baik sesuai dengan kode etik dambaan
semua orang. Semoga mahasiswa baru FIK UI angkatan 2015 dapat menjadi perawat
profesional yang mampu menjadi pelopor bagi perawat-perawat lain dalam membawa
citra perawat yang baik di mata masyarakat.
Daftar Pustaka
Asmadi,
(2005), Konsep Dasar Keperawatan, Jakarta: EGC
Firdaus,. O.M, et.al. (2013). Makara Journal
of Health Research. Motivasi Dokter
dalam Kegiatan Berbagi Pengetahuan pada Rumah Sakit Pendidikan di Indonesia,
Vol 17, No 2.
Nisya
Rifiani dan Hartanti Sulihandari, (2013), Prinsip-Prinsip
Dasar Keperawatan. Jakarta: Dunia
Cerdas.
Sujana,.R.S,
(2009, May 4). Peran Perawat Profesional dalam Membangun Citra Perawat
Ideal di Mata Masyarakat. Retrieved
from August 22, 2015, from https://rani.setiani/2009/05/04/peran-perawat-profesional-dalam-membangun-citra-perawat-ideal-di-mata-masyarakat/
0 komentar :
Posting Komentar